Di tanah Jawa, kekuasaan bukan sekadar soal siapa yang menang perang. Ia adalah soal darah, titah leluhur, dan pantangan yang tak tertulis namun mengikat lebih kuat dari hukum apa pun.
Trunojoyo tahu itu.
Dan justru karena itulah takdirnya telah diguratkan sejak awal.
Ia bukan orang Jawa.
Ia orang Madura.
Bagi para raja Jawa kala itu, Trunojoyo bukan sekadar pemberontak. Ia adalah ancaman terhadap tatanan kosmis—seperti Ranggalawe dan Aria Wiraraja sebelumnya. Orang-orang Madura yang berani mengangkat kepala, menantang tahta, dan mengguncang keyakinan lama: bahwa tanah Jawa hanya boleh diperintah oleh darah Jawa.
Pantangan itu tak pernah ditulis.
Namun ia hidup, bernafas, dan menuntut korban.
Keraton yang Jatuh dan Raja yang Mati di Pelarian
Pemberontakan Trunojoyo bukan isapan jempol. Ia berhasil melakukan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya: menduduki Keraton Mataram. Istana suci itu jatuh ke tangan seorang Madura.
Amangkurat I, Raja Jawa, lari dalam kehinaan.
Ia wafat bukan di singgasananya, melainkan di pelarian, di tanah Tegal—seperti raja yang kehilangan restu langit.
Bagi orang Jawa, itu bukan sekadar kekalahan militer.
Itu adalah aib peradaban.
Amangkurat II dan Pilihan yang Berdarah
Sebagai putra mahkota, Amangkurat II memikul beban yang tak ringan: mengembalikan martabat Jawa yang diinjak-injak bukan hanya oleh Trunojoyo, tetapi juga oleh kekuatan asing yang bersekutu dengannya—Madura, Makassar, Sunda (Cirebon dan Banten).
Ia sadar, melawan mereka sendirian berarti bunuh diri.
Maka ia melakukan hal yang paling pahit bagi seorang raja Jawa:
bersekutu dengan bangsa asing—VOC.
Harga yang dibayar mahal. Wilayah Mataram terpotong, kedaulatan terkikis. Namun satu hal berhasil diselamatkan:
Tahta Jawa tetap diduduki oleh orang Jawa.
Bagi Amangkurat II, itu adalah pilihan paling kejam namun paling “benar” menurut pantangan leluhur.
Trunojoyo: Raja yang Tak Pernah Dinobatkan
Seandainya sejarah berbelok sedikit saja, para ahli sepakat: Trunojoyo mungkin akan menjadi Raja Jawa. Ia punya dukungan, wilayah, dan momentum.
Namun sejarah tidak berpihak padanya.
Ia kalah. Ditangkap oleh VOC.
Ironisnya, setelah ditangkap, Trunojoyo justru diperlakukan layaknya raja. VOC melihat peluang: seorang figur kuat yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan Jawa dari balik layar.
Namun Amangkurat II membaca permainan itu.
Dan ia tahu satu hal:
Selama Trunojoyo hidup, pantangan Jawa belum ditegakkan.
Payak, 2 Januari 1680
Di sebuah desa bernama Payak, Jawa Timur, dalam sebuah kunjungan yang dibungkus seremoni kehormatan, sejarah mencapai titik akhirnya.
Tak ada perang.
Tak ada teriakan.
Hanya dua lelaki.
Dua takdir.
Dua darah yang tak pernah bisa menyatu.
Dengan tangannya sendiri, Amangkurat II mencabut keris.
Dan dengan tangannya sendiri pula, ia menikam Trunojoyo.
Bukan atas nama dendam.
Bukan atas nama VOC.
Melainkan atas nama pantangan bangsa Jawa.
Trunojoyo wafat hari itu—bukan hanya sebagai pemberontak yang kalah, tetapi sebagai simbol bahwa di tanah Jawa, kekuasaan bukan semata soal keberanian, melainkan soal darah dan restu leluhur.
Dan sejak saat itu, Jawa kembali dipimpin oleh orang Jawa.
Namun sejarah mencatat dengan getir:
Kadang, yang disebut “kemenangan” adalah luka yang diwariskan turun-temurun.
No comments:
Post a Comment