Parman. Lelaki parubaya yang menggantungkan hidupnya pada hasil kayu bakar merambah lebih dalam dari biasanya. Beberapa hari terakhir, jalur biasa terasa berat. Seolah langkah kakinya diminta menjauh. Kali ini ia menuruti saja arah yang entah bagaimana terasa memanggil. Parangnya mengayun malas sekadar menyibak ranting kering yang merintangi jalan. Saat sinar matahari mulai menghangatkan ubun-ubun, tapak kakinya menyentuh sesuatu yang keras dan tak rata. Sebuah batu nyaris serata dengan permukaan tanah, tertutupi lumut dan dedaunan kering.
Di permukaannya tergurat bentuk-bentuk geometris aneh, tidak seperti pahatan biasa. Ia menyingkirkan lapisan tanah dan ranting dengan telapak tangan, lalu mencungkil pinggirnya dengan gagang parang. Tanah sekitarnya runtuh pelan, membuka lebar sebuah struktur rendah dari batu hitam yang dingin meski tersinari matahari. Di tengahnya, sebuah cekungan bundar berisi kerak merah tua yang mengering mengelupas seperti sisi. Di sekelilingnya, tujuh tengkorak manusia berjajar menghadap ke pusat.
Masing-masing diletakkan di atas lempeng batu kecil berbentuk mata angin. Udara tiba-tiba menjadi sunyi seperti ruang tertutup. Tidak ada gerak angin, tidak ada suara dedaunan. Parman hanya diam. Pandangannya menyapu lambat ke sekeliling altar yang mulai menyembulkan aroma amis dari dalam tanah. Lehernya seperti tercekik sesuatu yang tak terlihat. Ia merogoh saku dan mengeluarkan lintingan tembakau. Tangan kirinya gemetar kecil. Langit tetap cerah, tapi dedaunan di atas kepala tampak lebih gelap dari sebelumnya.
Seolah membentuk semacam tudung yang menyekat dunia luar. Ia memundurkan kaki ragu lalu menjatuhkan tembakau ke tanah tanpa sadar. Sore itu ia tak pulang. Keesokan paginya tubuhnya ditemukan mengambang di sungai kecil di luar desa. Parangnya tergeletak di tepi air. Gagangnya tergores-gores. Tak ada luka besar. Hanya goresan panjang seperti cakaran dari dada ke bawah pinggang. Terlalu rapi untuk luka kecelakaan. Terlalu banyak untuk binatang biasa. Yang paling sulit dijelaskan adalah ekspresi wajahnya.
Mata setengah terbuka dan bibir yang mengembang ke atas seperti sedang menahan tawa. Orang-orang yang menemukan jasad itu memilih diam memanggil dukun tua yang tinggal di pinggir dusun. Laki-laki itu hanya memandang tubuh Parman lalu meludah ke tanah dan berbalik pulang tanpa sepatah kata pun. Sejak saat itu tak ada lagi yang lewat jalur hutan bagian barat tanpa perlu kesepakatan, semua orang menghindar. Sejak tubuh Parman ditarik dari sungai, kabut mulai muncul tanpa jadwal. Tidak menunggu musim, tidak peduli waktu.
Asap putih itu menggantung rendah, merayap masuk dari sela-sela pohon, lalu menyusup diam-diam ke ganggang kecil desa. Pada awalnya hanya tipis seperti embun, tapi semakin malam semakin tebal, tak ada hembusan angin, hanya hawa dingin yang melekat di kulit dan tak hilang meski dengan pelita atau api unggun. Anak-anak mulai susah tidur. Mereka terbangun dengan napas berat, mata melotot basah, dan tangan mencakar udara. Ketika ditanya, mereka menyebut suara dari bawah lantai atau bayangan yang melambai dari jendela. Meski semua tertutup rapat, tak semua orang percaya.
Sampai seorang balita ditemukan duduk di halaman rumah, memeluk boneka lusuh yang tak dikenali siapapun. Boneka itu dijahit dari kain kafan dengan kepala bundar dari tanah liat yang retak di bagian wajah salah satu keluarga. Rumahnya selalu berbau dupa meski tak pernah membakar apun. Dinding bagian dalam mengelupas pelan memperlihatkan bekas tulisan samar seperti cakaran huruf. Di ruang belakang, tikar mereka basah dan setiap malam ada bunyi seperti langkah kaki kecil melintasi lantai bambu.
Beberapa warga berusaha mencari penjelasan. Dukun desa mencoba membakar bawang putih dan menyembuh rumah-rumah dengan asap kemenyan. Tapi asap itu malah berputar-putar di udara membentuk pola-pola yang sulit dijelaskan. Ketika mereka membakar wuluh di perempatan, lidiya patah sebelum api menyala. Tak ada yang berani mengucap apa-apa. Namun satu persatu warga mulai menghindari keluar rumah saat malam tiba. Di sudut desa, seorang ibu mendapati anak perempuannya bicara sendiri di dalam kamar seperti menyahut pada sesuatu yang tak terdengar. Ketika ditanya, anak itu menunjuk ke pojok ruangan.
Tempat dinding menghitam lembab dan berujar lirih bahwa ada nenek yang selalu berdiri di sana. Nenek berjubah hitam," katanya yang rambutnya menggantung sampai ke lantai dan matanya tidak ada. Ibu itu memanggil orang-orang untuk membantu mengusirnya. Mereka berdoa, memercikan air bunga, dan mengelilingi kamar dengan doa-doa. Tapi saat api lilin dinyalakan, cahaya tak pernah mencapai pojok ruangan. Gelap di sana tidak bergeming seperti tidak terpengaruh cahaya.
Salah satu pria yang membantu tanpa sadar menatap terlalu lama ke sudut itu, ia terjatuh dan mulutnya mengeluarkan busa. Saat sadar, ia menolak bicara. Bola matanya bergerak tak terkendali ke kanan dan kiri, seolah mencari sesuatu yang masih ada di sekelilingnya. Warga mulai bicara pelan-pelan, hanya di sela bisik-bisik tentang jalan setapak yang setiap malam terdengar langkah kaki meski tak ada yang lewat tentang suara-suara di langit-langit seperti benda berat yang merayap di atas rumah tentang cahaya redup dari dalam hutan.
Seolah ada obor yang berjalan bolak-balik di antara pepohonan, namun tak pernah berhenti di tempat yang sama dua kali. Dan dalam diam itu ada sesuatu yang terasa mengawasi dari kejauhan. Menjelang sore sebelum langit benar-benar redup, lapisan putihnya mulai merambat di sela-sela ilalang, menyentuh kaki-kaki rumah panggung, dan menggantung rendah seperti napas yang tertahan. Udara mengental, membuat daun-daun bergeming. Seolah seluruh desa ditahan dalam kantung yang dilapisi embun dingin dan diam.
Kepala desa mencoba mengajak beberapa pria ke batas hutan. membawa obor dan beduk kecil yang biasa dipukul saat ronda malam. Tapi langkah mereka tak jauh. Begitu mereka menginjak rumputan yang basah meski tak hujan, bunyi seperti gemeretak tulang terdengar dari arah semak berulang lambat seirama dengan degup jantung yang semakin tak tenang. Tak ada hewan, tak ada angin, hanya suara retakan seperti kaki telanjang menginjak ranting, tapi datang dari arah yang salah. Di antara pepohonan yang jaraknya tak masuk akal.
Salah satu dari mereka, seorang pemuda bernama Darmo tiba-tiba berhenti. Obornya mati, tangan kirinya terangkat pelan tanpa sadar, menunjuk ke gelap. Matanya tak berkedip. Di kejauhan di antara dua batang pohon besar tergantung sesuatu yang bergerak perlahan, memutar seperti mengambang. Sosok berjubah hitam tak menyentuh tanah dan dari bawah kainnya menetes cairan gelap ke akar-akar yang tampak berdenyut pelan. Darmo terjatuh, tubuhnya menggigil tak terkendali dan mulutnya mengucapkan sesuatu yang tak bisa dimengerti.
Kata-katanya terdengar seperti Jawa, tapi terlalu tua, terlalu terpotong-potong. Seolah bukan lidahnya sendiri yang menggerakkan. Mereka membawanya kembali ke balai desa. Malam itu, tubuh Darmo demam tinggi. Lehernya memar seperti dicekik dan jari-jarinya terus meremas udara. Beberapa warga mulai bermimpi hal yang sama. sebuah mimbar dari batu hitam di tengah tanah berlumpur yang berdenyut seperti dada makhluk tidur. Di sekelilingnya, suara-suara melantunkan nyanyian berat yang terasa menekan telinga. Di atas mimbar berdiri seseorang yang tak memiliki wajah.
Hanya rongga gelap tempat seharusnya mata dan mulut berada. Sosok itu tak bicara. Tapi semua yang bermimpi tahu maksudnya. Mereka harus datang. Mereka harus membawa darah. Anak-anak kecil menggambar simbol di tanah dengan arang atau bara kayu bekas dapur. Simbol yang sama yang pernah dilihat kepala desa di Batu Alar saat dulu Parman ditemukan. Mereka tak tahu artinya hanya mengatakan bahwa perempuan dari langit yang mengajari. Ketika ditanya siapa, mereka hanya menangit-langit rumah dan tertawa.
tawa pelan tanpa suara. Seorang tetua mencoba membacakan doa-doa. Tapi saat mulutnya mulai menyebut nama suci, lidahnya terasa tebal seperti ada tangan yang menarik dari kerongkongan membuat kata-kata tercekat dan darah menetes dari hidungnya. Di halaman seekor ayam hitam ditemukan mati. Kepalanya hilang dan di atas punggungnya tertulis dengan darah durung rampung. Hampir setiap malam kini terdengar suara lonceng kecil dari arah hutan. Seolah ada yang memanggil ternak, tapi tidak ada yang memiliki lonceng dan tidak ada ternak yang kembali saat dicari.
Tak ada yang lagi bicara keras. Semua membisiki doa dengan napas terselip. Mereka merasa dipantau bukan hanya dari hutan, tapi dari dalam rumah mereka sendiri. Cermin-cermin ditutupi kain, kolong tempat tidur diberi rajah. Tapi meski semua usaha dilakukan, perasaan itu tetap menempel di tengkuk bahwa ada sesuatu yang sudah masuk dan tak berniat pergi. Gemetar yang merambat di tubuh Darmo tak berhenti. Bahkan saat ia sudah dikurung di bilik bambu yang dikunci dari luar, ia tak lagi makan, hanya bergumam sambil mencakar dinding tanah seperti sedang menggali.
Ketika salah satu warga memberanikan diri mengintip di bawah sinar temaram obor, mereka melihat jari-jari Darmo berdarah, tapi wajahnya justru memancarkan kegembiraan. Ia berbisik, "Sudah dekat, sudah dibangunkan. Sekarang mereka menunggu gantinya." Kepala desa yang semakin gelisah menyuruh beberapa orang menggali ulang batu altar di tengah hutan. Mereka menggali lebih dalam dari sebelumnya.
Di bawah lapisan batu dan akar tua, mereka menemukan rongga kecil seperti ruang bawah tanah. Terbuat dari susunan batu andesit yang tertutup tanah liat merah yang keras seperti tulang kering, bau besi tua, dan sesuatu yang basi langsung menyeruak. Di dalamnya terdapat ukiran-ukiran yang tidak dikenal. Simbol-simbol aneh yang menyatu dengan dinding seperti dilukis dengan darah yang telah menghitam. Di sudut ruang sempit itu tergolek sebongkah patung kayu kecil. Sosoknya tak menyerupai manusia atau hewan apapun yang dikenal.
Bertanduk tiga, matanya tertutup kain putih dan mulutnya menganga seperti sedang menjerit. Di bawah patung itu tertulis dalam aksara kuna sing ora kenangi nanging tansah tangi yang tidak boleh dibangunkan tapi selalu terjaga. Salah satu tetua yang dulunya belajar lontar-lontar tua di Pesantren Jati Sawit dipanggil untuk menerjemahkan tulisan-tulisan itu. Ia menggigil setelah membacanya lalu memaksa semua orang meninggalkan tempat itu. Tapi malam itu ia ditemukan gantung diri di bel bambu belakang rumahnya. Di tanah ia meninggalkan tulisan dengan darah jarinya sendiri.
Dulu para leluhur tidak memuja, mereka memenjarakan. Seketika seluruh narasi sejarah yang diwariskan selama ratusan tahun runtuh. Desa ini bukan dibangun di tanah keramat untuk dilindungi, melainkan untuk menutup sesuatu. Leluhur-leluhur mereka bukan penjaga spiritual, tapi penjaga penjara. Penjara bagi sesuatu yang tak diberi nama, tak bisa didoakan, dan tak bisa dilupakan. Harman bukan yang pertama, Darmo bukan yang terakhir, dan anak-anak yang menggambar simbol itu, mereka adalah jembatan.
Suara-suara yang selama ini dianggap hanya gangguan kabut, lonceng, nyanyian dari balik sawah, ketukan dari dalam sumur tua, semuanya adalah getar dari sesuatu yang sedang mengangkat dirinya perlahan dari dasar penahanan. Hutan itu tak hanya ditumbuhi pepohonan, ia adalah tubuh dan akar-akarnya adalah nadi. Batu altar itu adalah poros. Dan ketika tanah mulai merekah di sekelilingnya, bukan karena gempa, tapi karena tulang-tulang lama di bawah sana mulai bergerak, semua tahu kutukan itu bukan hanya bangkit.
Ia sedang mencari tubuh baru untuk melanjutkan penyembelihan yang tertunda sejak abad ke-18. Ketika tanah di sekitar altar mulai merekah, desa seperti tercekik diam-diam. Langit tampak lebih reduk meski siang hari. Suara jangkrik lenyap dan burung-burung menghilang dari langit. Anak-anak yang menggambar simbol itu mulai berubah. Mata mereka tak lagi mencari wajah orang tua mereka saat dipanggil, melainkan terus menatap ke arah barat laut, ke arah hutan di mana rongga pemujaan ditemukan. Salah satu anak Laras ditemukan berdiri di tepi sumur tua sambil mencelupkan jarinya ke dalam air dan mengguratkan simbol yang sama di dinding batu.
Saat ditarik paksa oleh ibunya, ia hanya berkata dengan suara yang bukan suaranya, "Kalian harus kembalikan tubuhnya, sudah terlalu lama menunggu." Du malam setelahnya, hujan turun deras tanpa petir, tanpa angin. Hanya suara air yang menghantam tanah seperti rintik dari langit busuk. Di rumah-rumah dinding mulai berjamur mendadak. Tikar-tikar anyaman basah seperti direndam dari dalam.
Bau anyyir merayap keluar dari setiap sudut dan di bawah rumah-rumah panggung. Tanah menjadi lunak meski tak tergenang. Darmo tak lagi bisa diajak bicara. Tubuhnya terus menggeliat seperti sedang dililit sesuatu yang tak kasat mata. Di antara desah napasnya ia menyebut satu nama yang belum pernah terdengar sebelumnya. Jagratara. Satu-satunya yang mengenali nama itu adalah seorang nenek lumpuh yang tinggal di ujung desa. Suaranya gemetar saat menyebut bahwa Jagratara adalah sebutan tua bagi roh penjaga dari zaman Majapahit, tapi bukan penjaga manusia, penjaga kesepakatan darah.
Dahulu di era yang tak tercatat oleh babat resmi, sebuah kelompok pertapa menyembunyikan kekuatan dari dunia luar. Mereka tak menyembah, tapi merawat sesuatu yang dikutuk untuk tak pernah mati. Jika dibiarkan tidur, dunia aman. Tapi jika dibangunkan, ia akan mengambil bentuk baru dari tubuh yang paling lemah, paling mudah dikendalikan, anak-anak atau mereka yang terganggu akalnya. Suara itu mulai terdengar dalam mimpi beberapa orang.
Bukan dalam bahasa Jawa, bukan sanskta, tapi dalam getar yang menusuk kepala. merambat lewat tulang dan membuat tubuh menggigil tanpa sebab. Saat bangun, mereka selalu dalam keadaan berkeringat dengan bekas goresan simbol yang sama di dada atau lengan. Seolah digambar dari dalam kulit. Tengah malam, Laras menghilang. Lantai rumahnya basah dan dingin seperti tanah kuburan. Spray di kamarnya tercabik dan dinding bambu berlubang membentuk pola spiral memanjang. Di tengahnya hanya tertinggal rambut.
Bukan rontok, tapi seikat rambut yang dipilihin rapi seperti dipersiapkan untuk upacara kuno. Semua tanda mengarah pada satu hal. Tubuh baru telah dipilih. Tapi bukan hanya satu. Kutukan ini butuh banyak wadah. Karena yang bangkit bukan satu sosok, melainkan koloni keyakinan lama yang lahir dari rasa takut, darah, dan kesepakatan diam-diam antar leluhur. Tubuh anak-anak desa adalah wadah-wadah suci yang kini tengah dijamah oleh sesuatu yang tak memiliki bentuk, hanya kehendak. Dan kehendaknya adalah hidup kembali dalam tubuh yang belum ternoda.
Langkah para tetua mengarah ke puncak bukit dengan wajah kosong dan napas berat. Seolah kaki mereka digerakkan oleh ingatan yang bukan milik mereka sendiri. Mata mereka tak lagi mencari jawaban. Hanya menerima bahwa sesuatu yang lebih tua dari ingatan manusia telah kembali dan membutuhkan mereka sebagai alat penggenap. Di tengah kabut yang tak wajar, tebal, diam, dan berbau besi tua, mereka membentuk lingkaran di sekitar batu altar yang mulai menghitam. Di puncaknya, darah lama yang telah mengering sejak ditemukan kini tampak mengilap seperti baru ditumpahkan.
Tapi tak ada yang memegang pisau, tak ada yang terluka. Darah itu bukan berasal dari tubuh manusia, melainkan seakan keluar dari batu itu sendiri, merembes dari pori-pori zaman yang tak tercatat. Laras atau makhluk yang menguasai tubuhnya berdiri di tengah lingkaran. Bola matanya kini hitam seluruhnya tanpa putih. memantulkan cahaya seperti danau pekat. Ia menggigit ujung lidahnya lalu menyemburkan darah ke arah api kecil yang tak padam meski diterpa hujan kabut.
Api itu menari liar dan mulai berubah warna dari merah ke biru lalu hijau sebelum akhirnya menjadi hitam legam seperti asap yang jatuh. Darmo yang telah terikat di dalam rumah, tubuhnya ditahan oleh tujuh ikatan sabut kelapa mulai melenguh dan tali-tali itu satu persatu melonggar tanpa disentuh. Ia tertawa kecil lalu menangis lalu menyanyikan tembang Jawa tua yang bahkan nenek paling sepuh tak lagi tahu artinya. Suaranya bergema keluar hingga sampai ke altar dan laras menoleh tajam seolah mendapat aba-aba dari suara itu.
Tiba-tiba tubuh anak-anak lain yang sebelumnya pasif mulai berjalan serentak dalam irama yang tak manusiawi. Leher mereka sedikit miring ke satu sisi. Tangan menggenggam rapat benda-benda kecil dari rumah masing-masing. Sepotong sendok, sehelai kain, serpi mainan. Semacam persembahan pribadi yang dikumpulkan oleh kehendak yang tak mereka mengerti. Mereka tiba di bukit tanpa dipanggil, tanpa dituntun. Tapi semuanya tahu harus ke sana. Ritual itu bukan ciptaan baru. Ia hanya mengulang sesuatu yang pernah dilakukan dengan pemain yang berbeda.
Dan bukti paling nyata bahwa ini pernah terjadi. Ukiran samar di bawah altar yang kini terlihat jelas oleh sorot api hitam. Barisan simbol yang identik dengan coretan anak-anak desa, namun tertata rapi seperti mantra. Dari antara kabut muncul suara berat bukan dari mulut, tapi dari dalam dada semua yang hadir. Darah yang dahulu dikubur dengan kebohongan kini menuntut perjanjian ditepati. Satu tubuh tak cukup, tujuh harus ditukar. Tanah di bawah altar bergerak tak seperti gempa, tapi lebih seperti sesuatu dari dalam mencoba keluar.
Uap hangat naik dari celah batu, membawa serta aroma belerang dan daging mentah yang belum busuk. Suara dari dalam tanah itu tak seperti raungan, melainkan erangan gembira. Seperti makhluk yang lama tidur dan kini mengendus aroma tubuh-tubuh baru. Tangan-tangan kecil mulai gemetar. Tapi tak ada yang menjerit, tak ada yang melawan. Karena kini bukan lagi mereka yang berdiri di sana. Tubuh mereka hanyalah kulit tipis yang disiapkan untuk dihuni kembali oleh sesuatu yang lebih tua, lebih lapar, dan lebih sabar dari waktu itu sendiri.
Yang menyaksikan semua itu, para orang tua, tetua, bahkan pendeta desa tak mampu lagi menolak karena mereka tahu yang sedang terulang bukan sekadar kutukan. Ini adalah warisan yang pernah mereka sembunyikan. dan kini menuntut lunas. Tanah di bawah altar terbelah tanpa suara seperti kulit tua yang retak oleh tekanan dari dalam. Uap putih menembus celahnya, menggumpal, dan perlahan memadat menjadi bentuk-bentuk yang tak bisa dijelaskan.
Bayangan-bayangan itu bergerak seperti manusia, tapi tak memiliki tulang, wajah atau batas wujud. Mereka keluar satu persatu, merangkak, memeluk tubuh anak-anak yang berdiri kaku dalam lingkaran, lalu menyatu seperti sedang mengambil kembali tubuh yang lama hilang. Di antara semua sosok, satu yang paling besar menjulang dari perut bumi. Bukan dengan kecepatan, melainkan dengan keyakinan. Tubuhnya seperti janin yang membesar terlalu cepat. Kulitnya tak rata, urat-urat menonjol seperti akar, dan bagian wajahnya seolah belum selesai dibentuk. Tapi dari celah matanya yang terjahit kasar, sinar merah samar menyusup keluar berdenyut seperti detak jantung yang baru dibangkitkan.
Laras mendekat, tubuhnya kini dipenuhi goresan hitam seperti akar kering yang tumbuh dari dalam kulit. Ia berlutut di hadapan sosok itu, lalu merobek kainnya sendiri, memperlihatkan lambang berbentuk spiral terbakar yang terpatri di bawah tulang rusuknya. Spiral itu bergerak pelan seperti menelan dirinya dari dalam. Dan saat ia menyentuh tanah, altar yang selama ini dia mulai bergetar pelan.
Darmo yang telah lepas dari ikatan kini merangkak ke arah altar. Matanya basah bukan oleh air mata manusia, tapi cairan gelap seperti lendir pekat yang menetes dari kelopak matanya. Ia tertawa dalam gumaman yang kacau. Suaranya menjadi gema dari puluhan suara lain. Seperti ada banyak mulut yang berbicara dari tenggorokannya. Sosok janin itu menyentuh tanah dan setiap sentuhannya meninggalkan bekas seperti luka bakar. Daun-daun gugur dari pepohonan. Bukan karena angin, tapi karena mereka takut pada sesuatu yang tak bisa dilawan.
Hewan-hewan yang bersembunyi di balik gelap memekik lalu hening mendadak. Seolah seluruh hutan ikut menahan napas. Tujuh anak yang sudah tak lagi sepenuhnya manusia mulai bergerak maju. Satu persatu mendekat ke arah pusaran tanah tempat makhluk itu lahir kembali. Mereka tidak menjerit. Mereka tidak memohon. Karena di dalam tubuh mereka kini bersemayam tu roh lama. Jiwa para pendosa dari zaman kerajaan yang dahulu mengikat perjanjian darah dengan penguasa bawah tanah demi kekuasaan. Dan perjanjian itu belum selesai.
Satu bagian penting masih ditunggu. Tumbal terakhir. Darmo berdiri. Tubuhnya mendesis seperti kulit dibakar dari dalam. Ia menatap laras yang dalam sorot matanya kini bukan lagi istri, bukan juga korban, melainkan pintu yang akan menutup siklus ini. Ia memeki keras dan suara itu mengguncang udara seperti petir di bawah tanah. Laras tersenyum. Tubuhnya perlahan mengering seperti terhisap dari dalam. Tapi ia tidak roboh. Ia menyatu. Di detik berikutnya, altar pecah menjadi ribuan serpihan. Dan dari dalam tanah itu keluar satu cahaya kelam yang menggulung ke langit.
Seisi bukit terbungkus dalam kabut yang lebih tebal dari malam, menelan seluruh tempat dalam gelap yang tak alami. Dan saat suara-suara itu perlahan hilang dan hutan kembali sunyi, hanya satu hal yang tertinggal di tempat altar tadi berdiri. sebuah cekungan tanah berlendir seperti rahim yang telah dikosongkan di sekelilingnya. Tujuh batang pohon kecil mulai tumbuh dengan cepat. Batangnya bengkok, daunnya kehitaman, dan akar-akarnya seolah mencari tubuh untuk ditelan.
Penduduk desa yang melihat dari kejauhan tak bisa menjelaskan apa yang mereka saksikan. Mereka hanya tahu bahwa larangan lama untuk tak menyentuh altar telah dilanggar dan kini sesuatu yang lama tertidur telah kembali. bukan hanya untuk menghantui desa ini, tapi untuk membangkitkan generasi kegelapan dari darah mereka sendiri. Tidak ada upacara, tidak ada kabar duka, bahkan tidak ada yang benar-benar hilang secara kasat mata karena tubuh-tubuh mereka tak pernah ditemukan.
Hanya suara aneh yang mengiang saat fajar, bau tanah busuk yang bertahan meski hujan mengguyur semalaman, dan bayangan samar yang berdiri di antara pohon-pohon muda yang tumbuh terlalu cepat. Warga desa tak pernah menyentuh Bukit Larung lagi. Mereka tak mendekat, tak membicarakannya, bahkan tak lagi menunjuk arah ke sana. Seolah tempat itu bukan bagian dari bumi yang sama. Tapi anak-anak yang lahir setelah kejadian itu mulai mengalami hal-hal yang tak bisa dijelaskan, bermimpi dalam bahasa yang tidak dikenal, menggambar lingkaran dan spiral tanpa diajarkan, dan berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat saat mala menggigit terlalu dingin.
Tujuh pohon di cekungan altar kini tumbuh sangat cepat. Batangnya menghitam seperti arang basah dan setiap malam bulan mati, tanah di sekitarnya berdenyut seperti daging hidup. Para petani bersumpah melihat tanah itu bergerak perlahan. seolah sedang bernapas. Sesekali suara perempuan terdengar samar dari arah bukit. Tapi mereka tahu itu bukan suara manusia. Di rumah-rumah yang menghadap ke arah bukit, kaca jendela mulai retak dari dalam.
Benda-benda kecil bergeser sendiri setiap tengah malam dan dinding mengeluarkan noda berbentuk tangan mungil. Seolah ada yang mencoba keluar dari balik bata. Pemerintah daerah pernah mengutus tim survei ke sana. Mereka tidak kembali. Kini di peta desa, Bukit Larung ditandai dengan warna abu-abu pekat, tanpa label, tanpa nama, tanpa penjelasan. Karena tanah itu tak lagi bisa dianggap mati dan kutukan yang tertanam di dalamnya belum selesai. Demikianlah kisah kali ini. Sebuah catatan kelam yang tertinggal di hutan tua.
Di antara akar-akar yang meronta dan tanah yang tak sudi menelan dosa. Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa dalam kegelapan bisa mengendap di balik kepercayaan yang dibungkus persembahan atau seberapa jauh manusia bersedia menggadaikan nuraninya demi janji kuasa dan keabadi. Terima kasih telah meluangkan waktu. Telah ikut menyelami lorong-lorong sunyi yang selama ini dibiarkan terlupakan. Kehadiran Anda sebagai pendengar yang berani menatap kegelapan itu tanpa berpaling adalah bagian dari nyala kecil yang menjaga agar kisah seperti ini tidak lenyap begitu saja ditelan diam.
Sebagai penutup, izinkan saya berbagi pesan yang semestinya tak sekadar didengar, tapi direnungkan. Keyakinan tanpa akal bisa menjadi api dan di tangan yang salah. Bahkan doa pun bisa menjelma kutukan. Hati-hatilah dengan apa yang kau minta karena tanah selalu mendengar dan tak semua yang dikubur akan diam. Sampai jumpa di kisah selanjutnya.
'
No comments:
Post a Comment