Saturday, April 04, 2026

Cerita Horor : Tukang Bangunan Ini Tak Tahu Kalau Masjid Yang Ia Perbaiki Milik Jin Muslim



Di sebuah desa kecil bernama Kedung Waru yang berada di pinggir hutan di wilayah Jawa Tengah, hiduplah seorang lelaki sederhana bernama Sarwono. ' Usianya sekitar 40 tahun. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, agak kurus dengan wajah yang sering tampak letih namun teduh. Pekerjaannya sehari-hari adalah tukang bangunan serabutan. Kadang ia dipanggil untuk memperbaiki rumah, ' kadang membuat dapur, kadang hanya jadi kuli angkut pasir. Sarwono tinggal bersama istrinya, Mbak Yeni, ' perempuan sabar berusia 35 tahun. Mereka dikaruniai dua anak, satu laki-laki kelas SMP dan satu perempuan ' kelas SD. Hidup mereka serba paspasan. 

Dapur sering berasap hanya dari sayur bening dan tempe goreng. Tetapi ada satu hal yang selalu diingat orang-orang tentang keluarga ini. Meski miskin, mereka tidak pernah mengeluh berlebihan. Tetangga-tetangganya menyukai sikap Sarwono yang ringan tangan. Kalau ada yang butuh tenaga untuk memperbaiki genteng bocor atau membuat kandang ayam, ia siap membantu meski bayaran hanya seikhlasnya.

Kadang malah cuma dibayar dengan seikat sayur atau beberapa kilo gabah. Namun di balik kesederhanaan itu, Sarwono sering merasa resah. Usia sudah setengah baya, tabungan nyaris tak ada. Rumah kecil peninggalan orang tuanya sudah banyak retak di sana sini. Pernah ia berangan-angan merantau ke kota jadi kuli projek di Jakarta atau Surabaya, tapi istrinya menahan. "Di sini saja, Mas," kata Yeni suatu malam saat mereka duduk di beranda rumah bambu. Anak-anak butuh bapaknya dekat. Rezeki memang tipis, tapi toh kita masih bisa makan. 

Sarwono hanya mengangguk, tapi hatinya tetap gelisah. Ia ingin sekali bisa membahagiakan keluarganya, minimal punya rumah layak dan biaya sekolah anak-anak ' tanpa harus ngutang. Hari-hari berlalu begitu saja. Pagi Sarwono pergi mencari kerja. Siang pulang dengan baju penuh debu semen. Malam ia duduk di teras sambil menyeruput teh panas buatan istrinya. Kadang ia ikut ronda malam bersama para tetangga. Pak Miko, si pedagang kayu, Mas Bowo yang punya sawah luas, dan Kang Wardi ' yang tukang ojek. Obrolan ronda biasanya soal sawah, harga gabah, atau kabar orang meninggal. 

Tapi suatu malam ada percakapan berbeda. Won kata Pak Miko sambil menghembuskan asap rokok kreteknya. Aku dengar kamu lagi sepi kerja ya. Sarwono tertawa kecut. Heh, wong tiap hari begitu kok, Pak. Kalau ada kerjaan ya alhamdulillah. Kalau enggak ya cuman nunggu panggilan. Pak Miko mengangguk pelan lalu menunduk sebentar sebelum melanjutkan. Aku kemarin ketemu orang aneh, Won. Dia nanya, "Ada enggak tukang yang bisa memperbaiki masjid tua di balik hutan sebelah utara? Semua orang yang duduk di pos ronda menoleh. Balik hutan utara. 

Memangnya ada kampung di sana? Tanya Kang Wardi heran. Iya, aku juga baru tahu. Jawab Pak Miko. Katanya ada perkampungan kecil jarang berhubungan sama orang luar. ' Mereka butuh tukang buat memperbaiki masjid. Sarwono diam. Ada rasa penasaran tapi juga aneh. Selama ini ia sering masuk hutan untuk cari kayu bakar. tapi belum pernah melihat ada perkampungan di dalamnya. Terus sampean mau kasih ke aku kerjaan itu? Tanya Sarwono. Hati-hati.

Ya, kalau kamu mau aku kenalin sama orangnya. Kata Pak ' Miko. Orangnya sopan kayaknya alim. Pakai peci putih terus. Dia bilang bayarnya insyaallah cukup. Enggak usah khawatir. Percakapan itu membuat Sarwono susah tidur malam itu. Di satu sisi, ia butuh pekerjaan. Tapi di sisi lain, hatinya tak enak memikirkan kampung di balik hutan yang bahkan tetangga-tetangganya saja jarang mendengar. Keesokan paginya, Sarwono menceritakan hal itu pada Yeni. Istrinya sempat menatap kosong ke arah dapur lalu berkata liri, "Mas, aku gak enak dengarnya. 

Kampung apa itu kok kayak gak pernah ada kabar. Tapi kalau memang rezeki, ya dijalani saja. Bismillah." Sarwono menarik napas panjang. Aku juga mikir gitu. Aku coba dulu tanya-tanya. Siapa tahu ' memang benar ada. Dua hari kemudian saat ia sedang menambal genteng rumah Pak Bowo, tiba-tiba seorang pria berusia sekitar 50-an datang menghampiri. Berpakaian putih sederhana, bersorban tipis, wajahnya teduh. Dialah yang dimaksud Pak ' Mik namanya Pak Hasim. Pak Hasim berbicara pelan penuh sopan. 

Ia menceritakan bahwa kampungnya bernama Kampung Wonotirto terletak jauh di balik hutan. Aksesnya sulit, jalan setapak licin, jarang ada yang berani masuk. Masjid kami sudah tua, atapnya bocor. Jemaah makin sedikit kalau hujan karena air netes ke mana-mana," kata Pak Hasyim dengan nada prihatin. Kami dengar sampean tukang yang jujur, Mas Sarwono. Kami mohon sampean berkenan memperbaikinya. Sarwono sempat tercekat mendengar cara bicara Pak Hasyim. Halus sekali. Tapi ada sesuatu yang membuat ' bulu kuduknya berdiri seperti berbeda dari orang kebanyakan. 

Namun ' ia menepis rasa itu. Kalau sampean serius, insyaallah saya siap bantu, Pak. Jawabnya, hati-hati. Pak Hasyim tersenyum. Alhamdulillah kami akan antar sampean besok malam Jumat biar jalannya lebih aman. Sarwono mengangguk meski hatinya makin penasaran kenapa harus malam Jumat dan kenapa seakan-akan jalan ke sana berbahaya kalau ditempuh di hari lain? Malam itu ia bercerita pada Yeni. Istrinya tampak khawatir tapi tidak mencegah.

Kalau itu memang rezeki, Mas, ia dijalani. Tapi jangan lupa salat, jangan lupa doa. Sarwono mengiakan. Ia tidak tahu bahwa keputusan sederhana itu akan membuka jalan pada sebuah pengalaman paling ganjil sekaligus berkesan dalam hidupnya. Malam Jumat tiba lebih cepat dari yang Sarwou bayangkan. ' Sejak sore ia sudah merasa gelisah. Tangannya sibuk menyiapkan peralatan tukang, palu, gergaji, paku, meteran, dan beberapa perkakas kecil yang bisa dibawa dengan karung. Meski sederhana, ' semua itu adalah modalnya untuk mencari nafkah. 

Di dapur, Mbak Yeni menyiapkan bekal. Nasi bungkus dengan lauk tempe orek dan ikan asin. Mas, kalau sampai besok sore belum pulang, aku harus nyari kabar ke mana? Tanyanya liri. Sarwono terdiam. Ia sendiri tidak tahu kampung Wonotirto yang disebut Pak Hasyim sama sekali asing ' baginya. tidak pernah ada di peta, tidak pernah ia dengar dari orang tua ' maupun tetangga lain. "Kalau aku belum pulang sampai lusa, coba tanyakan ke Pak Miko," jawabnya akhirnya. '

Beliau yang pertama ngenalin aku ke Pak Hasim. Yeni mengangguk pelan lalu memandang wajah suaminya lama-lama. Ada rasa cemas yang tidak bisa disembunyikan. "Mas, hati-hati ya. Aku punya firasat tempat itu bukan tempat sembarangan. Tapi kalau memang sudah niat, jangan lupa banyakbanyak zikir. Sarwono tersenyum meski dalam hati ia juga merasa aneh. Insyaallah ya. Doakan aku selamat. Menjelang Isya, terdengar suara sandal mengetuk halaman. Pak Hasyim datang mengenakan pakaian putih dan membawa tongkat kayu. 

Wajahnya tetap teduh tapi malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin semilir membawa aroma tanah basah dari arah hutan. Sudah siap, Mas Sarwono, tanyanya. Sarwono mengangguk lalu berpamitan pada istrinya. Yeni menggenggam tangan suaminya erat-erat seolah enggan melepas. Hati-hati, Mas. Dengan langkah mantap, Sarwono mengikuti Pak Hasim. Mereka menyusuri jalan desa melewati sawah yang gelap. Lampu-lampu rumah sudah banyak yang dipadamkan. Hanya suara jangkrik dan kodok bersahutan. Setelah berjalan hampir setengah jam, mereka sampai di tepian hutan. 

Jalan setapak membentang. Sebagian tertutup ilalang tinggi. Pepohonan jati dan mahoni menjulang membuat suasana semakin pekat. Pak Hasyim berjalan di depan. Tongkatnya sesekali mengetuk tanah. Jangan khawatir, Mas. Jalan ini aman kalau kita jaga niat. Katanya pelan. Sarwono hanya mengangguk menahan rasa dingin yang mulai merambat ke tengkuknya. Semakin dalam mereka masuk, suasana hutan semakin aneh. Tidak ada suara binatang malam, hanya desir angin yang membuat dedaunan bergetar. 

Sesekali terdengar suara gemicik air, mungkin dari sungai kecil yang tersembunyi. Setelah hampir 1 jam berjalan, Sarono merasa aneh. Jalannya seperti berputar-putar. Ia merasa pernah melewati batang pohon besar yang miring itu sebelumnya. "Pak, apakah kita tidak tersesat?" tanyanya hati-hati. Pak Hasyim tersenyum kecil tanpa menoleh. "Tidak, Mas. Jalan ini memang harus dilewati beberapa kali. Anggap saja ujian ' untuk orang yang berniat masuk." Sarwono terdiam. Kata-kata itu membuat bulu kuduknya berdiri. 

Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah jembatan ' bambu yang melintasi sungai kecil. Airnya hitam berkilau. Entah karena pantulan bulan atau karena memang pekat. Saat melangkah di atas jembatan, Sarwono merasa bambu bergetar. Padahal Pak Hasyim berjalan santai di depannya. Setelah menyeberang, Pak Hasyim berhenti sejenak lalu berucap lirih seperti berdoa. Sarwono tidak mengerti apa yang diucapkannya, tapi suasana mendadak terasa lebih ringan. 15 menit kemudian, di kejauhan terlihat cahaya kuning redup. 

Semakin dekat semakin jelas bahwa itu berasal dari lampu-lampu teplok yang tergantung di depan rumah-rumah kayu. "Alhamdulillah kita sudah sampai," ' kata Pak Hasyim. Sarwono terperangah. Benar saja, ada perkampungan di balik hutan itu. Rumah-rumah kayu berjajar rapi dengan halaman bersih. Di tengahnya berdiri sebuah masjid tua dengan dinding kayu dan atap genteng yang sudah banyak berlumut. Suasana kampung itu tenang ' bahkan terlalu tenang. Beberapa orang keluar menyambut. Mereka berpakaian sederhana kebanyakan mengenakan sarung dan peci. 

Wajah-wajah mereka tampak ramah, namun ada sesuatu yang sulit dijelaskan seperti terlalu hening, terlalu tertib. Seakan-akan semua orang diatur dalam satu irama. Selamat datang, Mas Sarwono, ucap seorang lelaki berusia lanjut dengan jenggot putih. Kami sudah lama menunggu tukang yang mau membantu ' kami. Menunduk hormat. Saya hanya tukang kecil, Pak. Semoga saya bisa membantu sekuat tenaga. Mereka membawanya ke masjid. Dari dekat kondisi bangunan itu memang memprihatinkan. Atapnya banyak bocor. Kayu penyangga lapuk, lantainya retak. 

Tapi meski tua, masjid itu punya aura yang sulit dijelaskan. Seperti ada keagungan tersembunyi. Malam itu, Sarwono dipersilakan menginap di salah satu rumah warga. Rumah kayu itu sederhana tapi bersih dengan tikar pandan terhampar di ruang tengah. Tuan rumah memperlakukannya dengan sopan, menyajikan teh panas dan pisang rebus. Sarwono merasa agak janggal. ' Wajah-wajah orang kampung ini ramah, tapi tatapan mata mereka sering membuatnya merinding seperti terlalu dalam menembus isi hatinya. 

Menjelang tengah malam, Sarwono berbaring di tikar. Tapi matanya sulit terpejam. Dari luar ia mendengar suara azan pelan syahdu seakan datang dari kejauhan. Padahal bukan waktu salat. Ia mencoba mengabaikannya, menarik selimut dan akhirnya terlelap. Namun dalam tidurnya ia bermimpi aneh. Ia melihat masjid tua itu berdiri megah dengan cahaya terang benderang memancar dari kubahnya. ' Di halaman banyak orang berwajah bercahaya mengenakan jubah putih. 

Mereka membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan suara merdu bergema sampai langit terbuka. Saat Sarwono mendekat, salah seorang dari mereka menoleh dan tersenyum. Wajahnya mirip Pak Hasyim, tapi jauh lebih bercahaya. Orang itu berucap liri. Jangan takut, Mas Sarwono. Kehadiranmu di sini bukan kebetulan. Ada sesuatu yang akan kami titipkan padamu. Sarwono tersentak bangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Dari luar jendela, cahaya lampu teplok masih menyala. Tapi suara azan tadi lenyap digantikan oleh kesunyian yang menekan. Ia menatap langit-langit rumah kayu itu lama-lama. Ada rasa aneh dalam dadanya, campuran antara takut dan penasaran. 

Pagi itu, ayam jantan berkokok bersautan, tapi suara mereka terdengar ganjil, tidak riuh seperti biasanya, melainkan panjang, melengking, seakan-akan bergaung di ruang ' yang luas. Sarwono terbangun dengan kepala berat. Mimpi semalam masih membekas jelas. Ia sempat berpikir itu hanya bunga tidur. Tapi semakin ia ingat, semakin ia merasa ada makna yang sulit dijelaskan. Pak Hasim sudah menunggunya di serambi rumah, membawa termos berisi air panas dan segelas teh hangat. "Bagaimana tidurnya, Mas Sarwono?" tanyanya Rama. Sarwono mengangguk meski wajahnya masih menyimpan raut kebingungan. "Alhamdulillah, lumayan. Hanya mimpi saya aneh, Pak, tentang masjid itu. Pak Hasyim tersenyum samar, matanya menatap jauh. Kadang ' mimpi adalah cara kita diberi isyarat. Jangan terlalu dikhawatirkan, yang penting niat sampean tetap lurus. 

Ucapan itu justru membuat Sarwono semakin penasaran. Tapi ia memilih diam lalu segera bersiap. menuju masjid. Ketika ia mendekat, ia melihat beberapa orang kampung sudah menunggu. Ada yang membawa kayu, ada yang membawa genteng lama, bahkan ada yang membawa peralatan sederhana. Mereka semua menyambutnya dengan senyum yang ramah, terlalu ramah. Seolah mereka sudah mengenalnya lama, padahal baru semalam bertemu. Masjid ini saksi sejarah kami," kata seorang lelaki tua sambil menyapu halaman masjid. 

"Kalau masjid rusak, hati kami ikut rusak." Sarwemiksa bagian atap, menghitung balok kayu yang perlu diganti, ' dan memperkirakan kebutuhan material. Anehnya, setiap kali ia menatap dinding masjid, ada semacam getaran halus yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kayu-kayu itu memang tua, lapuk dimakan usia, tapi seolah menyimpan sesuatu yang tak kasat mata. Siang menjelang, para warga bergantian mengantar makanan untuk Sarwono. Nasi, sayur, lauk pauk, semuanya tampak segar. Tapi Sarwono merasa aneh. Aroma makanan itu begitu wangi. 

Rasanya nikmat sekali. Lebih nikmat dari makanan desa biasanya. Ia sampai heran bagaimana kampung yang terletak jauh di dalam hutan bisa punya makanan seenak itu. Saat makan siang, seorang pemuda menghampirinya. Usianya mungkin sekitar 20 tahun. Wajahnya teduh berbicara sopan. Mas Sarwono, kalau perlu bantuan bilang saja. Kami siap menolong. Sarwono tersenyum lalu menunjuk ke arah balok kayu yang sudah lapuk. Kalau ada bambu panjang atau kayu kuat, mungkin bisa untuk penyangga sementara. 

Pemuda itu mengangguk lalu berlari. Tak sampai 5 menit, ia kembali membawa ' balok kayu panjang. Padahal jarak ke hutan cukup jauh. Sarwono terdiam. Cepat sekali sampean dapat kayu. Tanyanya heran. Pemuda itu hanya tersenyum tidak menjawab lalu ikut membantu mengangkat kayu. Hari pertama pekerjaan berjalan lancar tapi semakin sore semakin banyak kejanggalan yang membuat Sarwah. Ia melihat beberapa orang kampung bekerja tanpa tampak kelelahan. Bahkan tidak berkeringat meski matahari terik.

Ada juga seorang perempuan tua yang duduk di serambi. Bibirnya komat kamit membaca ayat-ayat Alquran. Tapi suaranya terdengar bergema aneh seperti tidak berasal dari tenggorokannya, melainkan dari ruang yang lebih luas. Menjelang magrib, pekerjaan dihentikan. Sarwono diajak ikut berjamaah di masjid. Inilah pengalaman paling aneh sekaligus paling menggetarkan. Azan dikumandangkan dengan suara yang begitu merdu. Sampai-sampai dada Sarwono bergetar. Ia merasa seakan bukan manusia yang mengumandangkan azan itu, melainkan malaikat. 

Salat berjamaah dipimpin oleh seorang imam tua berjubah putih. Bacaan ayat-ayatnya begitu panjang, fasih, dan merdu. Suaranya mengalun membuat air mata Sarwono menetes tanpa sadar. Ia belum pernah merasakan kekusukan seperti itu sebelumnya. Setelah salat, warga duduk melingkar membaca wirid dan doa. Suaranya bergemuruh teratur seperti gelombang lautan. Sarwono merasa seolah ia berada di tengah majelis para wali, bukan sekadar kampung biasa. Malam itu setelah jah bubar, Sarwuk di serambi masjid sendirian. Ia menatap langit. Anehnya bintang-bintang tampak lebih dekat, lebih terang. 

Suasana begitu hening, tapi hati kecilnya tahu ia sedang berada di ' tempat yang berbeda, bukan sembarang kampung. Pak Hasyim datang menghampiri. Mas Sarwono, apakah sampean betah di sini? Sarwono menoleh ragu-ragu. Betah, Pak. Hanya saja kampung ini terasa lain. Pak Hasyim tersenyum lalu duduk di sampingnya. Kami memang berbeda, Mas. Kami bukan seperti orang-orang di luar sana. Tapi insyaallah kami semua muslim. Kami juga hamba Allah. Sama seperti sampean. 

Jantung Sarwono berdetak kencang. Kata-kata itu seakan menjawab kecurigaannya sejak awal. Ia memberanikan diri bertanya pelan. Maksudnya sampean semua bukan manusia. Pak Hasim tidak langsung menjawab. Ia menatap langit sejenak lalu berkata liri apa yang sampean di sini simpan saja hati. Jangan takut. Selama niat sampean baik, kami tidak akan mencelakai. Justru ada sesuatu yang kelak akan kami titipkan pada sampean. Sarwono terdiam. Ia merasakan hawa dingin menyusup ke dalam tulangnya. 

Tapi anehnya tidak ada rasa takut berlebihan. Justru ' ada rasa teduh seperti mendapat perlindungan. Malam semakin larut. Saat hendak kembali ke rumah tempatnya menginap, Sarwono melewati halaman masjid. Dari sudut mata, ia melihat sekelompok pemuda duduk bersila membaca Alquran dengan suara yang bergema. Tapi ketika ia menoleh untuk memastikan halaman itu kosong, hanya ada angin berhembus pelan menggoyangkan dedaunan. Hari-hari berikutnya, Sarwono sibuk dengan pekerjaannya memperbaiki masjid. 

Meski seorang diri, ia tak merasa benar-benar sendirian. Warga kampung selalu datang membantunya, mengangkat kayu, menyiapkan bambu, bahkan ada yang tanpa diminta menyiapkan adukan semen. Tapi semakin lama ia di sana, semakin banyak hal aneh yang sulit ia pahami. Suatu siang, saat panas terik, Sarwono beristirahat di serambi masjid. Ia memperhatikan beberapa pemuda kampung mengangkut ' balok kayu besar. yang jelas-jelas jauh lebih berat daripada tubuh mereka. Anehnya mereka mengangkat dengan mudah. Seolah-olah balok itu hanya sebatang bambu kecil. ' Tidak ada raut lelah. Bahkan mereka masih bisa bercakap-cakap sambil tersenyum. Sarwono melongo. Sampean kuat sekali, Mas. Salah seorang pemuda hanya tersenyum tipis tidak menjawab. 

Tatapannya sekilas membuat Sarwono terdiam. Mata itu terlalu dalam seperti memantulkan cahaya yang tidak ' wajar. Kejadian lain terjadi sore hari. Saat ia hendak mengambil air wudu, ia melihat kolam ' di samping masjid penuh dengan ikan-ikan kecil. Padahal ia yakin sebelumnya kolam itu kosong. 

Begitu ia menyentuh airnya, ikan-ikan itu lenyap dalam sekejap. Hanya menyisakan riak kecil di permukaan. Sarwono terguncang tapi berusaha menenangkan diri. Mungkin hanya perasaan, mungkin aku terlalu capek batinnya. Namun malam hari justru jauh lebih aneh. Setelah isya, warga kembali berkumpul di masjid. Mereka membaca wirid dengan suara keras berirama seperti gelombang. Sarwono ikut duduk mencoba menyesuaikan diri. Tapi saat ia menunduk, dari ekor matanya ia melihat sesuatu. Beberapa warga yang duduk di sekelilingnya bukan lagi berbentuk manusia. Ada yang tubuhnya menjulang tinggi seperti bayangan. 

Ada yang wajahnya samar-samar bersinar. Dan ada pula yang hanya tampak seperti cahaya putih tanpa bentuk. Sarwono tercekat, nafasnya tersengal. Ia ingin menoleh, tapi takut. Ia menunduk semakin dalam meremas-remas jari tangannya agar tidak pingsan. Tiba-tiba suara wirid itu berhenti serentak sunyi. Lalu terdengar suara Pak Hasyim dari depan. Mas Sarwono, jangan takut. Yang sampean lihat hanyalah sebagian dari hakikat kami. Ingat, kami semua muslim. 

'Kami tidak datang untuk mencelakai. Perlahan, suara wirid kembali bergema lebih lembut. Sarwono mencoba menenangkan diri. Ia sadar kampung ini memang bukan kampung manusia, tapi anehnya ketakutannya perlahan berubah menjadi rasa haru. Ia merasa seolah disambut. diajak ikut dalam lingkaran ibadah yang lebih besar dari sekadar dunia manusia. Malam itu setelah jemaah bubar, Sarwono kembali ke rumah tempat ia menginap. Namun rasa kantuk tak kunjung datang. Ia hanya bisa berbaring sambil memikirkan kejadian tadi

Menjelang tengah malam, ia mendengar suara ketukan halus di jendela. Dengan hati-hati ia mendekat. Begitu membuka jendela, ia terperanjat. Di luar berdiri seorang pemuda yang tadi siang membantunya membawa kayu. Tapi kali ini wajah pemuda itu pucat, matanya memancarkan cahaya redup. Mas Sarwono, suaranya lirih seperti berbisik dari kejauhan. Jangan kaget dengan semua yang sampean lihat. Kami memang berbeda, tapi percayalah kehadiran sampean di sini sudah ditentukan. Sarwono tercekat tidak bisa berkata apa-apa. 

Pemuda itu tersenyum samar lalu perlahan menghilang begitu saja. ' Lenyap seperti asap tertiup angin. Sarwendela dengan gemetar. Ia duduk di tikar. membaca doa seingat yang ia bisa. Rasa takut menyelimuti. Tapi anehnya tidak ada niat untuk kabur. Ada sesuatu dalam dirinya yang justru merasa harus bertahan. Esok harinya pekerjaan di masjid hampir selesai. Hanya tinggal beberapa bagian atap dan perbaikan lantai. Warga kampung terlihat senang. Wajah-wajah mereka berseri. Saat istirahat, seorang lelaki tua berjenggot putih menghampiri Sarwono. 

"Mas Sarwono," katanya pelan. Setelah pekerjaan selesai, jangan langsung pulang. Ada hal yang harus kami sampaikan. Bekal untuk hidup sampean ke depan. Sarwono menelan ludah. Ia ingin bertanya lebih lanjut. Tapi lelaki tua itu sudah pergi, meninggalkannya dalam kebingungan. Malam terakhir sebelum pekerjaan rampung, suasana kampung mendadak berubah. ' Angin bertiup lebih kencang, dedaunan berdesir keras, dan langit tampak lebih gelap dari biasanya. Selepas isya, warga kembali berkumpul di masjid. 

Kali ini jumlah mereka lebih banyak dari biasanya. Seakan-akan seluruh kampung hadir. Sarwono duduk di pojok, menunduk merasakan hawa dingin menyusup ke tulang. Pak Hasyim berdiri di depan jemah. Suaranya lantang tapi penuh wibawa. Malam ini kita akan menunaikan doa bersama. Doa untuk masjid ini, doa untuk kampung kita, dan doa untuk saudara kita. Mas Sarwono ' yang sudah ikhlas membantu. Suara amin bergema, panjang, berlapis. Seolah-olah tidak hanya datang dari manusia, tapi dari ratusan makhluk tak kasat mata. 

Sarwono merinding hebat, hampir meneteskan air mata. Di tengah doa, ia kembali melihat kilasan-kilasan aneh. Jemaah yang duduk di sekelilingnya perlahan berubah wujud. Ada yang tampak bercahaya putih, ada yang menjelma bayangan hitam tinggi. Ada yang tubuhnya samar seperti kabut. Namun semuanya tetap duduk rapi, khusyuk, bersuara serentak membaca ayat-ayat suci. Saat itulah Sarwono sadar sepenuhnya kampung ini memang kampung jin muslim. Malam itu masjid tua yang hampir selesai diperbaiki seakan menjadi pusat cahaya. 

Lampu teplok yang biasanya redup tampak lebih terang memantul di dinding kayu dan genteng berlumut. Sarwono duduk di saf paling depan. Sementara jemaah kampung memenuhi seluruh ruang. Pak Hasyim berdiri di depan mimbar. Wajahnya teduh namun penuh wibawa. Suaranya bergetar tapi mantap. Mas Sarwono, ucapnya ' menatap langsung ke arah lelaki itu. Sampean sudah menunaikan amanah memperbaiki rumah Allah di kampung kami. Tapi kedatangan sampean ke sini bukan hanya karena keahlian tukang. 

Ada hal yang lebih besar. Suasana hening. Jemaah yang duduk rapi menunduk hanya suara angin dari celah-celah dinding yang terdengar. Pak Hasyim melanjutkan, "Kami adalah jin muslim. Kami menjaga kampung ini sejak lama. Masjid ini adalah pusat ibadah kami. Tapi kami butuh tangan manusia untuk memperbaikinya. Karena hanya dengan keterlibatan manusia, keberkahan rumah Allah ini semakin sempurna. Kata-kata itu membuat Sarwono kaku. Ia sudah menduga, tapi mendengar pengakuan langsung seperti itu membuat darahnya berdesir. 

Jangan takut, lanjut, Pak Hasyim. Kami tidak menuntut apa-apa dari sampean. Justru ' kami ingin memberi sesuatu. bekal untuk hidup sampean agar jalan sampean lebih terarah agar ' rezeki sampean tidak terputus. Sarwono menelan ludah. Bekal seperti apa, Pak? Tanyanya dengan suara nyaris berbisik. Pak Hasyim tersenyum samar lalu memberi isyarat dengan tangannya. Jemaah serentak berdiri lalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suara keras, serempak, bergema, memenuhi ruangan.

Suara itu semakin lama semakin kuat hingga lantai masjid bergetar halus. Sarw menunduk, jantungnya berdetak tak beraturan. Tiba-tiba ' ia merasakan hawa hangat menyelimuti tubuhnya lalu menjalar ke dadanya. Ada energi yang masuk melalui rongga dadanya membuat napasnya lapang, pikirannya jernih. Di tengah gema bacaan ayat itu, ia melihat sesuatu. Pandangan matanya seakan terbuka ke dunia lain. Ia melihat cahaya putih berputar di atas masjid lalu turun perlahan menyelimuti seluruh jemah. 

Di antara cahaya itu muncul sosok berjubah putih. Wajahnya samar. tapi memancarkan ketenangan luar biasa. Sosok itu mendekat ke arah Sarwono. Suaranya bergema, lembut, namun tegas. Mas Sarwono, kami titipkan padamu tiga hal, keteguhan hati, ilmu ikhlas, dan doa yang akan selalu mendampingi. Dengan ini hidupmu akan terarah. Rezekimu tidak akan pernah terputus meski bukan berarti sampean akan jadi kaya raya, tapi cukup berkah dan menenangkan. Sarw terisak, air matanya mengalir deras. Ia merasa dirinya yang selama ini resah bingung arah hidup. 

Tiba-tiba diberi jalan yang jelas. Hatinya ringan seakan beban bertahun-tahun lenyap dalam sekejap. Suara bacaan jemah semakin melembut lalu berhenti serentak. Suasana kembali hening. Hanya Pak Hasyim yang masih berdiri menatap Sarw penuh makna. Sampean jangan ceritakan semua ini sembarangan, katanya pelan. Tidak semua orang bisa menerima. Simpan di hati, jalani hidup dengan tenang dan ingatlah selalu Allah dalam setiap langkah. Sarwono mengangguk. Masih dengan air mata menetes. Ia merasa tidak pantas menerima karunia sebesar itu hanya karena membantu memperbaiki masjid. 

Malam ' itu ia tidak bisa tidur. Ia duduk di serambi rumah penginapannya menatap langit. Anehnya bintang-bintang tampak begitu dekat seakan bisa diraih dengan tangan. Dalam hatinya ia mengulang-ulang doa memohon agar selalu diberi kekuatan menjaga titipan itu. Keesokan harinya pekerjaan di masjid selesai, atap sudah rapi, lantai diperbaiki dan dinding-dinding yang lapuk diganti. Masjid tua itu kini tampak lebih kokoh. Meski tetap mempertahankan bentuk aslinya, 

'warga kampung berkumpul untuk salat berjamaah sebagai tanda syukur. Suasana begitu khidmat. Setelah selesai, mereka bergiliran menyalami Sarwono. Wajah-wajah mereka tampak lega dan berseri. Meski sebagian masih tampak samar seperti bayangan cahaya yang berkilau. "Terima kasih, Mas Sarwono," kata seorang lelaki tua dengan mata berkaca-kaca. "Sampean sudah menjadi bagian dari kami meski sampean manusia." Sarwono menunduk dalam, tidak mampu berkata apa-apa selain liri mengucapkan alhamdulillah.

Pak Hasyim lalu mendekat menyerahkan amplop coklat berisi uang sebagai upah selama bekerja dan kain putih lipatan kecil. Ini ' bukan jimat, bukan benda sakti, hanya kain yang pernah menutupi mimbar masjid ini. Simpanlah, jadikan pengingat bahwa sampean pernah menjadi bagian dari kampung ' kami." Sarwono menerimanya dengan tangan gemetar. Ia tahu benda itu bukan sembarangan. Meski dibilang hanya kain. Namun, Pak Hasyim belum selesai. Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan rapi terikat. 

Ini upah untuk sampean. Jangan ditolak. Kami tahu tenaga sampean layak dihargai. Anggaplah ini sebagai balas jasa atas kerja keras sampean memperbaiki rumah Allah. Sarwono tertegun. Amplop itu terasa nyata di tangannya. Padat berisi lembaran uang. Jantungnya berdegup kencang. Ini membuktikan bahwa semua yang dialaminya bukan sekadar ilusi. Ada wujud yang benar-benar bisa ia bawa pulang. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Terima kasih, Pak Hasim.  

Saya saya tidak tahu harus berkata apa." Pak Hasim menepuk bahunya. ' Jalani hidup dengan ikhlas, Mas Sarwono. Uang ini hanya sekadar tanda. Bekal sejati sudah kami titipkan lewat doa dan ilmu yang akan selalu mendampingi sampean. Siang harinya, Pak Hasyim mengantar Sarwono keluar dari kampung. Jalan setapak yang semalam begitu panjang dan berputar kini terasa lebih ' singkat. Dalam hati Sarwulai bertanya-tanya apakah semua yang ia alami nyata atau hanya sebuah mimpi panjang. Tapi ketika ia tiba di tepian hutan, ' Pak. Hasyim berhenti menatapnya sekali lagi. 

Ingat Mas Sarwono, jalan pulang mungkin terasa biasa, tapi hati sampean sudah tidak akan sama lagi. Pulanglah, jalani hidup dan biarkan Allah yang menunjukkan jalan rezeki sampean. Sarw menuk lalu mencium tangan Pak Hasim. Saat ia menegakkan kepala lagi, sosok itu sudah tidak ada. Hanya suara angin dan desir daun menemani langkahnya pulang. Langkah Sarwono terasa ringan saat keluar dari hutan. Meski tubuhnya lelah, ada ketenangan baru yang mengalir dalam darahnya. 

Jalan tanah yang biasa tampak menakutkan di malam hari kini seperti biasa saja bahkan terasa bersahabat. Saat mendekati kampung, suara ayam berkokok dan anak-anak bermain sambil tertawa menyambutnya. Ia sempat berhenti sejenak menoleh ke belakang. Hutan yang tadi ia lewati berdiri tenang. Seolah menyembunyikan rahasia besar yang tidak boleh dibocorkan sembarangan. Ketika sampai di depan rumah, Mbak Yeni langsung keluar dengan wajah panik. Ya Allah, Mas. Sampean baru pulang. 

Aku kira kenapa-kenapa. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca. Sarwono tersenyum lemah. Maaf, Bu. Pekerjaan di sana ternyata lebih lama. Tapi alhamdulillah semua sudah selesai. Ia memeluk istrinya erat-erat. Di pelukan itu, Yeni bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari suaminya. Hatinya lebih tenang, ucapannya lebih lembut. Meski ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia yakin ada sesuatu yang besar telah dialami Sarwono. Hari-hari berikutnya, hidup mereka perlahan berubah. Bukan dengan harta berlimpah, ' bukan dengan rumah megah atau sawah luas, tapi dengan keberkahan yang nyata. 

Sarwono yang dulu sering bingung mencari kerja kini selalu ada saja yang datang mengetuk pintu. ' Ada tetangga yang minta dibuatkan lemari, ada yang minta perbaiki atap, ada yang ' minta bantu bangun dapur. Pekerjaan datang bertahap, tidak berlebihan, tapi cukup untuk menghidupi keluarga. Yang lebih aneh, setiap kali ia bekerja selalu ada jalan mudah. Kayu yang sulit didapat, tiba-tiba ada tetangga yang menawarkan. Alat yang hilang ' tiba-tiba ditemukan kembali di sudut rumah. 

Bahkan saat cuaca buruk, pekerjaannya tetap berjalan lancar. Para tetangga mulai melihat perubahan itu. Sharwono sekarang wajahnya adem ya. Bicara sama dia rasanya tenang. Begitu kata Bu Teti. Suatu sore. Mbak Yeni hanya tersenyum. Ia tahu betul, sejak pulang dari memperbaiki masjid di balik hutan itu, suaminya bukan lagi orang yang sama. Ia lebih sabar, tidak mudah marah, dan selalu ingat salat tepat waktu. Suatu malam, Sarwono duduk di teras rumah sambil menatap kain putih lipatan kecil 'pemberian Pak Hasyim. Ia tidak pernah menunjukkannya pada siapun, bahkan pada istrinya. sekalipun ia hanya menyimpannya di tempat paling aman. 

Sambil memegang kain itu, ia teringat suara yang pernah berbisik di Masjid Wonotirto. ' Keteguhan hati, ilmu ikhlas, dan doa akan mendampingi langkahmu. Tanpa sadar, air matanya jatuh bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang dalam. Ia bukan orang pintar, bukan orang berilmu tinggi, hanya seorang tukang biasa. Tapi Allah berkenan menitipkan pengalaman besar melalui perantara kampung yang tidak semua orang bisa lihat. 

Beberapa bulan kemudian, Sarwono mendapati rezekinya semakin berkah. Ia tidak kaya raya, tapi tidak pernah kekurangan. Istrinya bisa belanja kebutuhan rumah tanpa pusing, ' anak-anaknya sehat, sekolah lancar, bahkan sering dapat bantuan tanpa diminta. Suatu sore, Pak Miko, tetangga yang dulu memberitahu tentang pekerjaan dan memperkenalkan dengan Pak Hasim menyapanya di jalan. Ia menepuk bahu Sarwono ' sambil berkata, "Won, aku heran rezeki sampean sekarang lancar betul ya. 

Sejak pulang dari memperbaiki masjid di kampung balik hutan itu, sampean seperti gak pernah sepi kerja. Sarwono hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya ia tahu ucapan itu benar adanya. Tapi ia tidak menjawab panjang, hanya berkata lirih. Alhamdulillah, Pak. Semua ini cuman titipan Allah. Kita hanya numpang lewat. Pak Jatm mengangguk, tapi raut wajahnya menyimpan tanda tanya. Meski begitu, ia tidak bertanya lebih jauh. Yang lebih membuatnya terharu, hubungan dengan tetangga semakin harmonis. 'Orang-orang sering datang ke rumahnya sekedar minta nasihat atau curhat. Anehnya, meski

Sarwono merasa dirinya tidak pandai bicara, selalu ada kata-kata menenangkan yang keluar dari mulutnya. Seolah ada sesuatu yang membimbingnya dari dalam. Pernah suatu kali tetangga yang sedang bingung karena hasil panen gagal mendatanginya. Sarwono hanya berkata sederhana, "Rezeki itu bukan cuman dari sawah, kadang Allah kasih lewat jalan lain. Yang penting kita ikhlas, tetap berusaha, jangan berhenti berdoa." Orang itu pulang dengan wajah lebih ringan. 

Beberapa minggu kemudian, ia benar-benar mendapat pekerjaan tambahan di luar sawah yang menyelamatkan keluarganya. Sejak itu banyak orang percaya bahwa Sarwono punya petuah yang menyejukkan. Padahal Sarwono tahu persis semua itu bukan dari dirinya. Itu hanyalah titipan doa yang dulu disampaikan di Masjid Wonotiro. Suatu sore menjelang magrib, ia berjalan pulang setelah memperbaiki pagar rumah tetangga. Di jalan, angin sepoi ' membawa baut tanah basah. Ia menoleh ke arah hutan di kejauhan. 

Dalam hatinya ' ia berbisik, "Pak Hasyim, warga Wonotirto, terima kasih. Aku akan jaga titipan ini sebaik-baiknya. Entah bagaimana angin yang lewat seperti menjawab bisikan itu membawa ketenangan luar biasa ke dalam dadanya. Sarwono sadar kisah ini tidak boleh ia ceritakan sembarangan. Ia hanya mengatakan pada orang-orang bahwa ia diminta memperbaiki masjid tua di balik ' hutan dan dari situ hidupnya terasa lebih berkah. Hanya itu ' tidak lebih. Ia tahu kalau sampai menceritakan semuanya, mungkin orang-orang akan menganggapnya gila ' atau malah salah paham. 

Maka ia memilih diam menyimpannya sebagai rahasia antara dirinya, Allah dan kampung yang hanya ' bisa dijangkau oleh takdir. Malam terakhir dalam kisah ' ini, Sarwono kembali duduk diserambi rumah. Mbak Yeni menemaninya sambil menyeduh teh hangat. "Mas," kata Yeni pelan. "Aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Tapi aku lihat sejak pulang sampean lebih bahagia. Aku ikut senang."

Sarwo menoleh menatap istrinya. Senyum kecil menghiasi wajahnya. "Ital hidup ini dengan ikhlas, Bu. Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Kita cukup berusaha dan sisanya biar Allah yang menentukan. ' Yeni mengangguk air matanya menetes. Tapi bukan karena sedih. Di langit malam, bintang-bintang berkelip seakan ikut mendengar percakapan sederhana itu. Hidup Sarwono tidak pernah menjadi kisah tentang harta atau kekayaan besar. Tapi tentang keberkahan yang nyata. Cukup makan, cukup sandang, keluarga rukun, dan hati yang selalu tenang. 

Ia adalah saksi bahwa pertolongan Allah bisa datang dengan cara yang tak terduga. Bahkan lewat kampung yang tersembunyi di balik hutan. Kampung yang ternyata bukan milik manusia, melainkan jin muslim yang menjaga rumah Allah. Dan hingga akhir hayatnya nanti Sarwono tahu betul bekal sejati bukanlah emas atau harta tapi hati yang teguh ikhlas dan doa yang tak pernah putus. 



No comments:

Post a Comment

Thanks you