Di sebuah desa kecil yang tenang dan hijau, berdirilah sebuah rumah kayu sederhana. Di sanalah seorang ibu tua tinggal bersama putri cantiknya, Dara. Setiap pagi, Dara selalu menghabiskan waktu di depan cermin. Ia mengagumi kecantikannya yang memang sangat mempesona. [Dara tertawa] Sementara itu, ibunya bekerja keras di sawah setiap hari. Terik matahari membuat kulitnya keriput dan pakaiannya lusuh. Dara hanya bermalas-malasan di rumah.
Ia tidak pernah membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. "Dara, Nak, bisakah kamu membantuku sebentar?" pinta ibunya. Dara hanya memasang wajah kesal. Hati ibu sangat sedih melihat putri satu-satunya tidak peduli padanya. "Dara, besok ikut Ibu ke pasar, ya. Kita perlu membeli beberapa barang," ajak Ibu. "Tidak mau, Bu. Aku malas," jawab Dara dengan nada tinggi. "Ibu belikan bedak baru yang kamu suka kalau kamu mau ikut," bujuk Ibu. Mendengar janji ibunya, mata Dara berbinar. "Baiklah, Bu, aku ikut. Tapi, Bu, ada syaratnya. Ibu harus berjalan di belakangku." Ibu hanya bisa menghela nafas dan mengangguk sedih. Ia tetap menyayangi Dara. Keesokan harinya, mereka berangkat ke pasar.
Dara berjalan di depan dengan sombongnya, memakai pakaian terbaiknya. Ibunya berjalan di belakang sambil membawa keranjang. Orang-orang di desa terpesona melihat kecantikan Dara. Seorang pemuda bertanya kepada Dara, "Hai, gadis cantik. Siapakah wanita tua yang berjalan di belakangmu itu?" "Dia bukan ibuku.
Dia hanya pembantuku." Hati ibu sangat sakit mendengar jawaban putrinya. Air mata hampir jatuh dari matanya. Orang lain kembali bertanya, dan lagi-lagi Dara memberikan jawaban yang sama, menyakiti hati ibunya. Ibu berjalan tertunduk. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. [Ibu tersedu] Di tengah perjalanan, ibu berhenti. Ia menatap langit dengan hati yang hancur.
Air mata mulai mengalir di pipi keriputnya. [Ibu tersedu] Dalam hati, ia berdoa kepada Tuhan. [Suara angin dan petir] Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap dan mendung. Kilat mulai menyambar. Hujan turun dengan sangat derasnya. [Suara hujan dan petir] Dara merasa bingung dan takut ketika kakinya mulai terasa kaku.
Perlahan-lahan, dari ujung kakinya, tubuh Dara mulai berubah menjadi batu. "Ibu, ada apa ini?" teriak Dara ketakutan melihat kakinya yang membatu.
"Ibu, maafkan aku. Aku janji akan menjadi anak yang baik," tangis Dara memecah kesunyian. Namun, perubahan itu terus terjadi. Seluruh tubuh Dara akhirnya menjadi patung batu. Anehnya, air mata masih terlihat mengalir di wajah batunya. Ibu hanya bisa menyaksikan perubahan itu dengan hati yang pilu namun juga pasrah. Orang-orang desa berkumpul di sekitar patung batu Dara. Mereka melihatnya dengan rasa kagum dan takut. Jejak air mata masih terlihat jelas di wajah batu Dara.
Seorang tetua desa-
No comments:
Post a Comment