Tuesday, June 16, 2026

Malam 1 Suro di Surabaya:



Bayangan dari Lorong Tua

Malam itu, langit Surabaya tampak berbeda.

Angin bertiup pelan melewati jalan-jalan yang biasanya ramai. Kota Pahlawan yang siang harinya dipenuhi suara kendaraan kini terasa sunyi. Beberapa warga Jawa Timur percaya bahwa malam 1 Suro, malam pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, adalah waktu yang sakral. Banyak orang memilih berdiam diri di rumah, berdoa, atau melakukan tirakat.

Namun, bagi Arga, seorang fotografer berusia 28 tahun asal Surabaya, semua cerita tentang malam 1 Suro hanyalah mitos.

"Mana mungkin ada hal-hal seperti itu?" katanya sambil tertawa kepada dua sahabatnya, Dimas dan Rian.

Mereka berencana membuat konten video tentang tempat-tempat tua di Surabaya yang terkenal angker. Tujuan mereka malam itu adalah sebuah bangunan peninggalan Belanda yang telah lama terbengkalai di kawasan utara Surabaya.

Penduduk sekitar menyebutnya Rumah Lorong Merah.

Konon, setiap malam 1 Suro, terdengar suara gamelan samar dari dalam bangunan kosong tersebut.



Peringatan yang Diabaikan

Sebelum berangkat, seorang penjual kopi tua di dekat lokasi memperingatkan mereka.

"Kalau masuk malam ini, jangan pernah mengikuti suara yang memanggil nama kalian," katanya dengan suara pelan.

Dimas hanya tertawa.

"Pak, sekarang zamannya kamera 4K. Hantu saja kalau ada pasti viral."

Orang tua itu tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka dengan wajah pucat.



Rumah Lorong Merah

Jam menunjukkan pukul 11.45 malam ketika mereka tiba.

Bangunan tua itu berdiri sunyi dengan cat yang mengelupas dan jendela-jendela pecah. Cahaya bulan yang tertutup awan membuat suasana semakin gelap.

Begitu melangkah masuk, kamera mereka mendadak mengalami gangguan.

Suara kresek-kresek memenuhi rekaman.

"Signal hilang?" tanya Arga.

"Ini kamera, bukan handphone," jawab Rian sambil mencoba menenangkan diri.

Lantai kayu tua berderit setiap kali mereka berjalan.

Lalu...

Ting... ting... ting...

Suara gamelan terdengar sangat pelan.

Ketiganya saling memandang.

"Itu pasti dari luar," kata Dimas, meskipun wajahnya mulai tegang.

Tetapi suara itu semakin jelas.

Seperti berasal dari dalam rumah.



Nama yang Dipanggil

Jam tepat menunjukkan pukul 12 malam.

Mendadak angin dingin berhembus dari lorong panjang di belakang bangunan.

Lalu terdengar suara perempuan tua.

"Arga..."

Arga membeku.

"Itu kalian yang manggil?"

Dimas dan Rian menggeleng.

Beberapa detik kemudian.

"Dimaaass..."

Suara itu kini memanggil Dimas.

Rian mulai panik.

"Jangan jawab! Kata bapak tadi jangan jawab!"

Mereka berusaha keluar, tetapi pintu depan yang tadi terbuka kini tidak bisa digerakkan.

Suara gamelan berubah menjadi semakin keras.

Lalu terdengar suara langkah kaki.

Bukan satu.

Bukan dua.

Tetapi puluhan langkah kaki seperti orang-orang sedang berbaris.



Arak-Arakan Tanpa Wajah

Dari ujung lorong, muncul bayangan manusia berpakaian serba hitam.

Mereka berjalan perlahan.

Namun ketika cahaya senter menyorot wajah mereka, ketiganya hampir berteriak.

Makhluk-makhluk itu tidak memiliki wajah.

Kosong.

Hanya kulit pucat tanpa mata, hidung, maupun mulut.

Mereka berjalan sambil membawa payung hitam dan keris tua.

Di tengah rombongan berdiri seorang perempuan berkebaya putih dengan rambut panjang menjuntai hingga lantai.

Kepalanya menunduk.

Terdengar suara lirih.

"Sudah waktunya..."

Lampu senter Arga mati.

Suasana berubah gelap gulita.



Sosok di Belakang Mereka

Rian gemetar.

"Jangan bergerak..."

"Kenapa?" bisik Arga.

Dengan suara hampir menangis, Rian berkata:

"Karena perempuan itu sekarang berdiri di belakangmu."

Arga merasakan napas dingin tepat di tengkuknya.

Pelan-pelan ia membalikkan badan.

Dan saat cahaya kamera yang tiba-tiba menyala menyorot sosok tersebut...

Ia melihat wajah yang mengerikan.

Mata hitam pekat.

Mulut tersenyum terlalu lebar.

Dan yang paling membuatnya ngeri...

Wajah perempuan itu mirip ibunya yang sudah meninggal lima tahun lalu.

"Ikutlah bersama kami..." bisik sosok itu.

Arga menjerit.



Adzan yang Menyelamatkan

Di tengah kepanikan, dari kejauhan terdengar suara adzan Subuh dari masjid sekitar.

Seketika suara gamelan berhenti.

Arak-arakan tanpa wajah menghilang.

Perempuan berkebaya putih lenyap seperti asap.

Pintu depan terbuka dengan sendirinya.

Ketiganya berlari keluar tanpa menoleh ke belakang.



Rekaman yang Menghilang

Keesokan harinya, mereka memeriksa hasil video.

Seluruh rekaman malam itu kosong.

Tidak ada gambar rumah.

Tidak ada suara gamelan.

Tidak ada arak-arakan.

Yang tersisa hanya satu rekaman berdurasi tiga detik.

Di layar tampak ketiga sahabat itu berdiri ketakutan.

Dan di belakang mereka...

Terlihat seorang perempuan berkebaya putih sedang tersenyum ke arah kamera.

Namun yang membuat darah mereka membeku adalah tanggal pada metadata video.

1 Suro 1983.

Padahal mereka merekamnya pada tahun sekarang.



Sejak malam itu, Arga tidak pernah lagi membuat konten horor.

Sedangkan penduduk sekitar Rumah Lorong Merah masih sering mendengar suara gamelan setiap malam 1 Suro.

Dan hingga kini, tidak ada seorang pun yang berani memasuki bangunan itu setelah tengah malam.

Karena menurut cerita warga Surabaya...

Arak-arakan tanpa wajah itu masih mencari orang yang menjawab panggilan mereka.



By. @Septadhana


#CeritaHororIndonesia 

#Malam1Suro 

#HororSurabaya 

#KisahMisteriJawaTimur 

#CeritaMenegangkan 

#UrbanLegendIndonesia 

#CeritaSeram #HororNusantara #Misteri1Suro #KotaSurabaya



No comments: