Belajar Pemprograman Block dengan MIT App Inventior

MIT App Inventor adalah platform online gratis yang memungkinkan siapa saja, termasuk anak-anak, untuk membuat aplikasi seluler untuk Android tanpa perlu banyak pengetahuan pemrograman. Platform ini menggunakan antarmuka visual berbasis blok, yang memungkinkan pengguna untuk merangkai fungsi aplikasi dengan cara yang intuitif. 



Pemrograman Visual:
MIT App Inventor menggunakan blok-blok visual yang dapat disusun untuk menciptakan logika aplikasi, mirip dengan platform pemrograman seperti Scratch. 

Mudah Dipelajari:
Platform ini dirancang untuk mudah dipelajari, sehingga cocok untuk pemula dan bahkan anak-anak. 

Gratis dan Terbuka:
MIT App Inventor adalah platform gratis dan open-source, yang berarti siapa saja dapat menggunakan dan memodifikasi kode. 

Berbasis Web:
App Inventor dapat diakses melalui browser web, sehingga tidak memerlukan instalasi software khusus. 

Aplikasi Seluler:
Aplikasi yang dibuat di App Inventor dapat diinstal di perangkat Android (dan juga iOS, meskipun App Inventor tidak resmi mendukung iOS). 

Berbagi dan Remix:
App Inventor memungkinkan pengguna untuk berbagi kode aplikasi mereka dengan orang lain dan juga remix (memodifikasi) aplikasi yang dibuat orang lain. 

Contoh penggunaan:
  • Membuat aplikasi kalkulator sederhana.
  • Membuat aplikasi yang dapat mengambil gambar dari kamera ponsel dan memprosesnya.
  • Membuat aplikasi yang dapat terhubung dengan perangkat IoT (Internet of Things).
  • Membuat aplikasi yang dapat membaca dan menulis data ke database online. 

Manfaat belajar MIT App Inventor:
Meningkatkan pemahaman tentang pemrograman:
Meskipun menggunakan blok visual, App Inventor mengajarkan konsep pemrograman dasar seperti variabel, kondisi, dan loop.

Mengembangkan kreativitas:
Pengguna dapat merancang dan membuat aplikasi sesuai dengan ide dan imajinasi mereka.

Meningkatkan kemampuan problem solving:
Pengguna harus memecah masalah menjadi langkah-langkah yang lebih kecil dan lebih mudah dipecahkan.

Memperoleh pengalaman nyata:
Pengguna dapat melihat hasil karya mereka berjalan di perangkat seluler. 


Progress Pengajaran
Pengenalan MIT App  Invetor




Mari Kita Go - BlOcKs dengan Pictoblox

PictoBlox adalah perangkat lunak pemrograman grafis dan Python yang dapat digunakan untuk belajar coding, AI, dan ML. PictoBlox dapat digunakan untuk membuat permainan, robot, animasi, dan proyek AI/ML. 




Fitur PictoBlox Antarmuka visual yang ramah pengguna, Dukungan simulasi objek perangkat keras secara real-time, Fungsionalitas drag-and-drop, Lingkungan yang interaktif dan menarik, Umpan balik waktu nyata. 

Keunggulan PictoBlox :
  • Cocok untuk pemula
  • Membantu mengembangkan keterampilan penalaran logis dan pemecahan masalah
  • Dapat digunakan dengan beberapa platform berbeda, termasuk micro:bit
  • Memiliki ekstensi Kecerdasan Buatan yang dapat digunakan untuk membuat Asisten Virtual/Chatbot
  • Memiliki ekstensi Mesin Fisika yang dapat digunakan untuk mempelajari hukum-hukum fisika
Cara mendapatkan PictoBlox 
Aplikasi PictoBlox dapat diunduh dari Google Play Store
PictoBlox - Block Coding & AI - Aplikasi di Google Play
PictoBlox adalah aplikasi coding pendidikan berbasis blok untuk pemula dengan kemampuan interaksi perangkat keras yang ditingkatkan.





1. Program 1 : Face Detection





2. Program 2 : Object Detection




3. Program 3 : Penerjemahan



















4. Program 4 : Virtual Docter


Program 4 dalam proses pengerjaan.




Terima Kasih, Semoga Bermanfaat.

By/ @Septadhana



Video Pembuatan Program di Pictoblox









 


Serial “Stand-Up Sahabat” per sahabat, atau “Kejadian Ngakak Tapi Islami” - Part.01

Serial “Stand-Up Sahabat”, satu per satu per sahabat, dikemas ringan, lucu, tapi tetap bernilai dan Islami. Yuk, kita buka dengan episode awal!


🎤 Stand-Up Sahabat Episode 1: 

Ali bin Abi Thalib – "Gak Semua Gagah Itu Galak"

"Saya Ali bin Abi Thalib. Dulu waktu kecil suka manjat pohon kurma. Pas gede, gantinya manjat kuda buat perang.

Tapi ada satu rahasia: Saya tuh romantis.

Pernah Fatimah kesel, katanya saya jarang kasih puisi.
Saya bilang:
‘Wahai Fatimah, puisi cintaku padamu tidak ditulis… tapi tertanam di hati, dan terbaca lewat cara aku memperbaiki pintu rumah.’

Eh, dia langsung diem... terus nambahin garam di sayur.
Jadi lebih nikmat juga, romantis kan?" 😆

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 2: 

Bilal bin Rabah – “Adzan dan Suara Serak-Serak Basah”

"Assalamu’alaikum! Saya Bilal bin Rabah, muadzin pertamanya Islam.
Dulu banyak orang bilang suara saya khas banget. Ada yang bilang kayak angin padang pasir.
Tapi suatu hari suara saya serak.
Umar datang dan bilang:
‘Bilal, itu suara adzan atau suara keledai bangun kesiangan?’

Saya bilang:
‘Suara serak ini… karena saya adzan pakai cinta, bukan pita suara.’

       Rasulullah tertawa kecil dan berkata:
       "Mungkin Umar harus coba adzan sekali, biar tahu susahnya." 😄


🎤 Stand-Up Sahabat Episode 3: 
Abu Hurairah – “Hadis, Kucing, dan Mangkok Kosong”

"Saya Abu Hurairah. Teman-teman bilang saya hafal ribuan hadis.
Tapi, rahasianya bukan karena saya cerdas…
Karena saya sering deket-deket Nabi, dan... sering dikasih makan!

Suatu hari, saya mau nulis hadis, tapi lapar banget.
Ada sahabat lewat, saya kode:
‘Subhanallah, alangkah nikmatnya kurma sore hari ini.’

Dia jawab:
‘Tapi belum panen, Abu.’

Saya bawa mangkok kosong ke Nabi, berharap diisi.
Tapi beliau senyum dan berkata:
‘Kucingmu sudah makan lebih dulu?’

Saya jawab:
‘Ya Rasulullah, dia duluan hafal hadis, jadi dia duluan kenyang.’

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 4: 

Abdurrahman bin Auf – “Kaya Tapi Tetap Nasi Bungkus”

"Assalamu’alaikum! Saya Abdurrahman bin Auf. Katanya saya sahabat paling kaya.
Tapi… pernah gak kalian lihat orang kaya tapi suka nyumputin dompet?
Itu saya.

Pernah mau sedekah, ada orang bilang:
‘Wahai Abdurrahman, hartamu banyak. Sedekah dong!’

Saya kasih sekantong emas. Eh, dia kaget, terus saya bilang:
‘Tolong simpan baik-baik. Itu buat proyek sumur. Bukan buat beli onta sport!’

Tapi yang paling lucu, saya pernah bawa bekal nasi bungkus pas perang.
Umar lihat dan bilang:
‘Itu makanan perang atau piknik?’
Saya jawab:
‘Yang penting kenyang, bukan gengsi.’"

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 5: 

Usamah bin Zaid – “Anak Kecil Kok Jadi Komandan?”

"Saya Usamah bin Zaid. Waktu saya ditunjuk jadi komandan pasukan, usia saya baru 18 tahun!
Pasukan banyak yang lebih tua, lebih sangar.
Ada yang nyeletuk:
‘Dia bisa baca peta gak sih?’

Saya jawab:
‘Baca peta bisa, baca situasi lebih jago.’

Pas perang mulai, saya bilang:
‘Ingat! Bukan umur yang memimpin… tapi iman dan strategi!’

Musuhnya bingung:
‘Kok yang pimpin bocah?’
Saya jawab:
‘Bocah yang sudah dilatih langsung oleh Rasulullah!’ 😎

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 6: 

Utsman bin Affan – “Kalau Pemalu, Bukan Berarti Gak Lucu”

"Saya Utsman bin Affan. Orang bilang saya pemalu. Tapi saya juga bisa bikin orang ketawa—tanpa teriak-teriak.

Pernah suatu hari saya duduk lama di majelis, gak ngomong-ngomong.
Sahabat nanya:
‘Kenapa diam, Utsman?’

Saya jawab:
‘Saya bicara... dalam hati. Nanti saya tulis, biar lebih indah.’

Eh, ada sahabat nyeletuk:
‘Kalau semua orang kayak Utsman, stand-up bakal jadi sit-down.’

Saya cuma senyum, terus bilang:
‘Bahkan diam pun bisa jadi ibadah, kalau diniatkan karena Allah.’

Sahabat pun manggut-manggut… lalu ketawa, tapi gak keras-keras. Biar sopan."


🎤 Stand-Up Sahabat Episode 7: 

Zaid bin Tsabit – “Penulis Wahyu Tapi Gampang Laper”

"Assalamu’alaikum! Saya Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu.
Tugasnya serius. Tapi… perut saya kadang gak serius.

Pernah saya lagi nulis ayat, tiba-tiba suara perut bunyi:
‘Kruuuuk…’

Nabi ﷺ senyum dan berkata:
‘Zaid, sepertinya perutmu ingin ikut menulis juga.’

Saya langsung malu, buru-buru minta izin makan.

Sahabat lain nyeletuk:
‘Itu kalau Zaid nulis sambil kenyang, mungkin mushaf bisa selesai lebih cepat!’

Saya jawab:
‘Tapi kalau nulis sambil kenyang… saya ketiduran, bukan nulis!’"

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 8: 

Salman Al-Farisi – “Tukang Gali Parit, Tapi Suka Nyanyi”

"Saya Salman, asal Persia. Saya bantu strategi perang Khandaq: gali parit besar!
Tapi kerja fisik itu berat, jadi… saya sambil nyanyi.

Umar lewat, terus nanya:
‘Salman, itu lagu Persia?’
Saya jawab:
‘Iya, judulnya Khandaq Lagu Lama. Tentang unta yang jatuh cinta sama kambing.’

Semua yang gali parit ketawa.
Lalu Nabi ﷺ datang, dan ikutan senyum.

Beliau bilang:
‘Selama parit tetap dalam, silakan nyanyi. Tapi jangan bawa rebana!’"

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 9: 

Muadz bin Jabal – “Wangi, Jago Debat, Pernah Salah Kiblat”

"Saya Muadz bin Jabal. Dikenal paling wangi dan paling pinter soal halal-haram.
Tapi bukan berarti saya gak pernah salah!

Suatu hari jadi imam di kampung, shalat Isya saya panjaaaang banget.
Ada makmum kabur di tengah-tengah.
Saya bilang:
‘Kenapa dia keluar?’

Ternyata dia ke warung, lapar.
Nabi ﷺ denger cerita itu dan nasihatin saya:
‘Muadz, kalau shalat berjamaah, jangan kayak ngisi seminar. Ringkas aja!’

Sejak itu, saya jadi imam yang efisien.
Motto saya: ‘Wangi boleh, tapi jangan bikin orang pingsan karena lama.’"

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 10: 

Sa’ad bin Abi Waqqash – “Jago Panah, Tapi Pernah Salah Target”

"Assalamu’alaikum! Saya Sa’ad bin Abi Waqqash. Kata orang, panah saya jarang meleset. Tapi... jarang bukan berarti gak pernah.

Di perang Uhud, saya semangat banget. Lihat musuh, saya tarik busur, ‘Bismillah!’... TENG!

Eh, ternyata kena… topi Umar.
Umar balik badan dan bilang:
‘Sa’ad, kalau pengen ganti pimpinan, bilang aja langsung!’

Saya jawab:
‘Itu bukan salah saya, itu angin yang baper!’

Sejak itu saya dilatih fokus, dan Umar… pake helm dua lapis."

 

Serial “Stand-Up Sahabat” per sahabat, atau “Kejadian Ngakak Tapi Islami” - Part.02

Lanjutan Part.01 :




🎤 Stand-Up Sahabat Episode 21: 

Salman Al-Farisi – “Dari Persia, Tapi Bingung Naik Unta”

"Saya Salman Al-Farisi. Asal Persia, cari kebenaran sampai ketemu Rasulullah ﷺ. Tapi satu masalah besar... saya gak bisa naik unta dengan baik.

Hari pertama naik unta, saya duduknya kebalik.
Kepala unta ke depan, saya malah ngadep ke belakang.

Sahabat bilang:
‘Salman, kamu dakwah ke masa depan atau ke masa lalu?’

Saya jawab:
‘Ini strategi. Biar dosa-dosa masa lalu saya gak bisa ngikutin.’

Sejak itu saya dijuluki: Salman Si Visioner... Tapi Bingung Arah."

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 22: 

Khalid bin Walid – “Pedang Allah, Tapi Pernah Salah Bawa Barang”

"Saya Khalid bin Walid. Dulu panglima. Dijuluki Saifullah — Pedang Allah.
Tapi satu hari di perang, saya buru-buru keluar tenda, ambil sesuatu yang saya kira pedang...
Ternyata... sendok besar!

Pas saya angkat tinggi-tinggi sambil teriak takbir, prajurit lain malah bingung:
‘Itu mau perang atau mau masak bubur?’

Saya jawab:
‘Ini simbol: kita aduk strategi dulu, baru serang!’

Sejak itu sahabat bilang:
‘Kalau Khalid bawa sendok, berarti perang gizi!’ 🍲

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 23: 

Zaid bin Tsabit – “Juru Tulis Wahyu yang Sering Kehabisan Tinta”

"Saya Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu. Tugas mulia, tapi... sering dapet wahyu pas tinta lagi habis.

Pernah satu kali, Nabi ﷺ panggil:
‘Zaid, tulis!’

Saya buka lembaran... tapi tinta kering.

Saya panik, terus tiup-tiup bulu penanya sambil harap mukjizat.
Umar liat dan bilang:
‘Zaid, kamu minta tinta dari langit?’

Saya jawab:
‘Kalau bisa, sekalian refill isi kepala saya juga, biar hafalannya gak bocor!’


🎤 Stand-Up Sahabat Episode 24: 
Abdurrahman bin Auf – “Pedagang Kaya, Tapi Pernah Salah Dagang”

"Saya Abdurrahman bin Auf. Bisnis lancar, berkah, sahabat Nabi.
Tapi pernah juga salah strategi:
Bawa dagangan ke pasar... ternyata hari itu hari libur!

Saya tanya orang di pasar:
‘Kenapa sepi?’

Dia jawab:
‘Hari ini pasar lagi ditutup buat lomba panah.’

Saya heran dan bilang:
‘Kalau begitu, saya jual panah aja!’

Sejak itu, orang bilang saya:
Pebisnis yang bahkan bisa jual air di tengah banjir. 😄


🎤 Stand-Up Sahabat Episode 25: 

Sa’ad bin Abi Waqqash – “Pemanah Jitu, Tapi Pernah Salah Target”

"Saya Sa’ad bin Abi Waqqash. Dikenal pemanah top zaman Nabi ﷺ. Tapi pernah juga zonk.

Waktu perang, saya ngincar pasukan musuh... fokus, tahan napas...
Tiba-tiba... anak panah malah kena bendera kita sendiri! 😓

Teman bilang: ‘Sa’ad, kamu khianat? Kok bendera kita yang roboh?’
Saya jawab:
‘Bukan khianat, itu simbol: ‘Kita rendah hati, bukan tinggi hati.’

Sejak itu bendera kita diganti jadi warna hijau... biar aman, kata mereka:
‘Kalau hijau, Sa’ad anggapnya daun.’"


🎤 Stand-Up Sahabat Episode 26: 

Ubay bin Ka’ab – “Ahli Al-Qur’an Tapi Gagal Main Tebakan”

"Saya Ubay bin Ka’ab, salah satu penghafal Al-Qur’an terbaik. Tapi kalau disuruh main tebak-tebakan?
Wah, otak saya langsung buffering.

Pernah Hasan bin Tsabit tanya:
‘Bay, bay, teka-teki: Apa yang pagi-pagi hijau, siang putih, malam hitam?’

Saya jawab serius:
‘Apakah ini tafsir tentang hari kiamat?’

Hasan ketawa:
‘Bukan, itu nasi lengkap sama lauknya!’

Saya langsung istighfar:
‘Ya Allah... jadikan otak saya lentur untuk jokes harian.’

 

🎤 Stand-Up Sahabat Episode 27: 
Abdullah bin Mas’ud – “Kaki Kecil, Tapi Suara Bikin Gentar”

"Saya Abdullah bin Mas’ud. Kata Rasul, bacaan Qur’an saya bikin malaikat turun.
Tapi tubuh saya kecil. Pernah naik pohon dan tertiup angin sampai goyang-goyang kayak cabang tipis.

Sahabat pada ketawa liat betis saya kecil banget.
Umar bilang:
‘Itu bukan betis, itu ranting!’

Tapi Rasulullah ﷺ langsung nimpali:
‘Betis itu lebih berat di sisi Allah dari Gunung Uhud.’

Sejak itu saya dijuluki:
“Si Kecil Bersuara Langit.”
Tapi tetep aja, tiap naik pohon pasti ada yang ngasih tali pengaman. 😅

 

Bonus: Kejadian Ngakak Tapi Islami  

🌙 “Salah Masuk Rumah Nabi”

Suatu hari, ada sahabat baru dari luar Madinah datang. Dia mau silaturahmi ke rumah Nabi ﷺ.

Tapi karena semua rumah Nabi mirip—sederhana dan berderet—dia masuk rumah yang salah.

Begitu masuk, dia langsung salam:
"Assalamu’alaikum, ya Rasulullah!"

Dari dalam terdengar suara perempuan:
"Ini rumah Hafshah. Nabi ada di rumah sebelah!"

Sahabat langsung buru-buru keluar sambil istighfar...
Tapi suara Hafshah teriak sambil senyum:
"Lain kali, ketuk dulu pintunya, wahai tamu dari planet lupa!" 😂


🌙 “Sandal Tertukar di Masjid”

Di masjid Nabawi, semua sahabat lepas sandal sebelum masuk.
Tapi saat keluar, ternyata... banyak sandal mirip.
Akhirnya Umar ambil sandal, liat ukurannya, terus ngomel:

"Ini bukan sandal saya. Yang ini terlalu kecil. Saya ini Umar bin Khattab, bukan Umar bin Kecil!"

Abu Hurairah bilang:
"Kalau mau aman, kasih nama sandal pakai hadis."
Lalu dia tulis di sandalnya:
“Hadis Shahih Riwayat Abu Hurairah” 😆


🌙 “Sahabat-Sahabat dan Unta yang Ngangot”

Ada sahabat mau safar bareng naik unta.
Tapi satu unta gak mau jalan.

Umar: “Mungkin dia belum sarapan.”
Abu Bakar: “Atau lagi manyun, jangan dipaksa.”
Ali: “Coba ajak diskusi filosofis.”

Lalu Bilal datang dan berkata:
"Bismillah."
Dia usap kepala unta... eh langsung jalan!

Semua kaget.
Bilal senyum:
"Kalau hati tenang, unta pun paham."

Ali bilang: “Itu bukan unta, itu murid tasawuf.”


🌙 “Baju Baru Saat Takbir”

Di hari raya, seorang sahabat pakai baju baru, super wangi dan licin.

Saat takbir, ia berdiri di barisan depan. Tapi pas sujud… kainnya licin, tergelincir ke depan!

Orang belakang hampir ikutan jatuh. Imam sampe berhenti sejenak.
Sahabat itu bangun sambil berkata:
"Itu bukan jatuh karena khusyuk, tapi karena pewangi!"

Rasulullah ﷺ tertawa dan berkata,
"Lain kali pakai sabuk ikat, bukan parfum mahal."


🌙  “Jamaah yang Sujud Terlalu Lama”

Suatu hari di masjid, ada seorang jamaah yang sujud sangat lama.
Imam udah selesai, semua orang udah bubar... dia masih sujud.

Akhirnya Umar datang, sentuh bahunya, dan nanya:
"Wahai saudaraku, kau sedang sujud atau tidur?"

Orang itu bangun dan jawab:
"Saya sedang menghitung hutang saya satu-satu, Umar."

Umar tertawa:

"Kalau begitu, sujudmu barokah, tapi jangan sampai jadi kasur."

 

🌙  “Unta yang Kecewa”

Suatu ketika, ada unta milik sahabat yang suka ngambek.
Kalau gak dikasih rumput yang hijau segar, dia duduk dan gak mau jalan.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ lihat unta itu mogok di tengah jalan.
Pemiliknya bilang:
"Ya Rasulullah, mungkin dia sedang protes."
Rasulullah pun mendekat dan berbisik ke unta itu.

Tiba-tiba... unta itu berdiri dan berjalan tenang.

Sahabat langsung terkejut:
"Ya Rasul, kau bilang apa tadi?"

Beliau tersenyum dan berkata:
"Aku hanya bilang, 'Kalau kau mau makan rumput surga, ayo lanjut jalan.'”

Satu kafilah tertawa, dan sejak saat itu… unta itu dijuluki: Unta yang takut FOMO.


🌙 “Masbuk yang Salah Imam”

Ada seorang masbuk (telat jamaah) yang masuk masjid pas ruku’.
Saking buru-burunya dia takbir... dan langsung ikut ruku’ di belakang jamaah.

Tapi setelah salam, dia sadar...
Ternyata yang dia ikuti itu orang lagi latihan senam, bukan imam.

Si masbuk langsung salaman sambil berkata:
"Kita beda agama, tapi gerakanmu khusyuk, Mas."

Imam beneran cuma geleng-geleng:

"Ini masbuk tersesat dalam saf." 😅


🌙 “Anak Kecil Jadi Imam Dadakan”

Di satu waktu, Nabi ﷺ belum datang ke masjid karena sedang berwudu.
Anak-anak sudah ramai menunggu.
Salah satu dari mereka maju ke depan dan berkata:
"Bismillah, saya jadi imam sementara."

Dia takbir... dan shalatnya lancar sampai rakaat kedua.
Tapi tiba-tiba dia lupa ayatnya... terus nyambung:
"Inna a’tainaa... roti bakar?"

Semua anak tertawa.
Nabi ﷺ akhirnya datang dan bertanya:
"Kenapa kalian tertawa di shalat?"

Anak-anak menjawab:
"Karena imamnya lapar, ya Rasulullah."

Nabi ﷺ tertawa juga, dan berkata:

"Boleh jadi imam, tapi jangan sambil mikir sarapan." 🍞


🌙 “Anak-Anak di Masjid Minta Nabi Cerita Horor (Tapi Islami)”

Suatu malam, anak-anak berkumpul di masjid, sambil bisik-bisik:

“Coba minta ke Rasulullah ﷺ cerita tentang jin! Biar kayak horor-horor tapi syar’i.”

Akhirnya salah satu anak maju dan bertanya polos:

“Ya Rasulullah, pernah gak diganggu jin waktu tidur?”

Rasulullah ﷺ tersenyum dan menjawab:

“Pernah, tapi aku bacakan ayat Kursi… dan jin itu malah lari kayak dikejar dosa!”

Anak-anak langsung teriak bareng:

“WOOOAAHHH! Cerita jin islami tapi serem bener!”

Sejak malam itu, mereka sebut cerita itu: “Horor Halal di Masjid Nabawi”


🌙 “Umar dan Sandalnya yang Hilang”

Satu hari Umar bin Khattab kehilangan satu sandalnya di masjid.
Dia tanya ke semua orang:
"Siapa yang ambil sandal Amirul Mukminin?!"

Semua diam.
Tiba-tiba ada anak kecil datang bawa sandal dan bilang:
"Ini sandalnya, tapi baunya nempel di sajadah!"

Umar senyum, terus bilang:
"Berarti anak ini pencium jejak, calon detektif Madinah."

Satu majelis ketawa, dan sandal Umar dipajang…

(sebentar doang, karena Umar suruh simpan lagi 😆)


🌙 “Seekor Kambing Masuk Masjid”

Satu hari masjid Madinah kedatangan tamu tak biasa… kambing betina nyasar masuk ke dalam.

Kambingnya lari-lari keliling saf.
Sahabat bingung, ada yang mau kejar, ada yang takut najis.

Umar datang dan langsung duduk menenangkan kambing itu sambil bilang:
"Kalau engkau butuh bimbingan rohani, sini duduk bareng kami."

Nabi ﷺ datang, melihat itu, tersenyum dan berkata:
"Seandainya kambing ini paham adab majelis, dia sudah lebih baik dari yang ngobrol saat khutbah." 😄

 

🌙 “Roti Gosong di Majelis Rasul”

Ada sahabat bawa roti buat Nabi ﷺ dan sahabat lainnya.
Tapi pas dibuka… rotinya gosong sebelah.

Sahabat panik, bilang:
"Ya Rasulullah, rotinya terbakar karena aku sibuk hafalin hadis."
Nabi ﷺ ambil rotinya, lalu berkata:

"Ilmu memang panas… jadi jangan heran kalau rotinya ikutan gosong."

Semua tertawa, dan Nabi tetap makan rotinya.
Beliau berkata:
"Kadang rezeki datang dengan aroma panggangan yang tak sempurna." 😄




By. @Septadhana