Saturday, December 27, 2025

Menunjukkan Kebanggaan Terhadap Bangsa Indonesia


Sesungguhnya banyak sekali kesenian budaya yang diwariskan, tetapi banyak anak muda yang tidak meneruskan warisan leluhur ini, anak muda yang masa bodoh dengan budayanya. Ini sama saja dengan membunuh identitas negara, misalnya mereka lebih memilih musik barat yang lebih populer.Budaya Indonesia, sebuah warisan leluhur yang tak ada habisnya. Hampir di setiap daerah yang berbeda memiliki budaya yang berbeda pula. Tarian tradisional, lagu daerah, kesenian, adat istiadat, bahasa daerah, semuanya memiliki ciri khas masing masing. Sebagai kaum muda penerus bangsa, selayaknya kita menjaga budaya kita ini agar tak dicuri oleh bangsa lain!

Nah, bagaimana caranya? Berikut ini beberapa tip yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan kebanggaan terhadap budaya Indonesia:


1. Bermain permainan tradisional

Jika kalian sudah terbiasa bermain play station (PS) atau permainan modern lainnya, cobalah untuk bermain permainan tradisional. Misalnya, permainan egrang atau jajangkungan, yang berasal dari Jawa Barat. Permainan ini mengharuskan pemainnya berjalan dengan ketinggian pijakan tertentu menggunakan bambu. Ada pula permainan congklak yang dikenal dengan nama yang berbeda di sejumlah daerah, seperti dentuman lamban (Lampung), mokaotan (Sulawesi), dan dakonan (Jawa). Selain itu, ada berbagai permainan tradisional lain, galasin, lompat karet, engklek, dan sebagainya, yang sangat menyenangkan bila dilakukan bersama teman. 


2. Memelajari kesenian daerah

Jangan ragu untuk memelajari kesenian daerah. Bila di sekolah ada kegiatan ekstrakurikuler menari tarian daerah dan memainkan alat musik tradisional, cobalah untuk ikut serta. Dengan begitu, kecintaan terhadap kesenian daerah pun akan tumbuh.

3. Membaca cerita-cerita rakyat

Tahukah kalian dengan cerita rakyat tentang Danau Toba, Malin Kundang, atau Timun Emas? Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke punya banyak cerita rakyat yang menarik untuk dibaca. Jangan hanya membaca komik atau buku cerita asal luar negeri bila kalian  mengaku sebagai bangsa Indonesia.


4. Menyantap makanan tradisional

Orang Indonesia yang tinggal di luar negeri biasanya merindukan masakan tradisional. Sebut saja, rendang dari Padang dan gudeg dari Yogyakarta. Karena itu, kita yang tinggal di Indonesia, sebaiknya jangan menganggap remeh terhadap makanan-makanan tradisional. Meski menyukai makanan asal luar negeri, tetap jadikan makanan tradisional dalam daftar menu favoritmu.


5. Mengenakan busana nasional

Meski diklaim sebagai milik bangsa lain, Indonesia tetaplah yang menjadi pemilik batik. Ya, hampir di seluruh daerah di Indonesia terdapat kain batik dengan motif yang berbeda-beda. Kini, batik tidak hanya dikenakan pada acara-acara resmi. Batik sudah dijadikan beraneka busana yang nyaman dipakai di acara apapun. Selain batik, ada ulos, kain songket, dan berbagai jenis kain lainnya yang patut kita banggakan dan pelihara keberadaannya.

Pakaian kebaya yang telah menjadi busana nasional pun kini tidak hanya dikenakan di acara-acara resmi. Kebaya telah dimodifikasi sehingga bisa dipakai di berbagai kegiatan. Bahkan, kebaya pun tersedia untuk anak-anak. Kalian pun bisa memakainya sebagai busana sehari-hari.


6. Mengunjungi tempat wisata di Indonesia

Berbagai tempat wisata di Indonesia punya cerita maupun keindahan yang menarik untuk dikunjungi. Ini dibuktikan dengan kunjungan para wisatawan asing ke Indonesia yang selalu bertambah setiap tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sekitar 3,56 juta wisatawan asing yang datang ke Indonesia sejak Januari hingga Juli 2009. Kalau mereka tidak ragu berwisata ke Indonesia, berarti tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia.


7. Mengunjungi museum dan pusat-pusat kebudayaan

Museum dan pusat-pusat kebudayaan menjadi tempat yang paling pas untuk mengenal kebudayaan kita. Misalnya, Museum Wayang yang menampilkan ribuan wayang dari seluruh Indonesia. Sahabat Bravo! pun bisa berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang di dalamnya terdapat berbagai anjungan daerah di Indonesia. Beberapa anjungan bahkan dijadikan sanggar berlatih tari, mewayang, maupun kesenian lainnya. Sahabat Bravo! pun bisa ikut serta berlatih, kan?

Kebanggaan terhadap budaya Indonesia harus ditumbuhkan sejak dini. Mulailah sekarang juga. Kalian tentu tidak ingin bila budaya kita kian punah, dan bahkan direbut oleh bangsa lain, kan?



Sumber :

http://ginnapinkersdrainbow.blogspot.com/2012/03/menunjukkan-kebanggaan-terhadap-bangsa.html


Cerita Anak Dari Maluku : Kisah Yongker Penebang Kayu

Cerita Dongeng Pendek Dari Maluku Penebang Kayu

Dahulu kala di sebuah daerah di pegunungan di Maluku hiduplah seorang anak laki-laki bernama Yongker. Dia hidup sebatang kara dan sebenarnya berasal

Dari daerah Manipa. Namun, sejak kedua orang tuanya meninggal, ia kemudian pindah dan menetap di Benteng. 

Setiap hari Yongker mencari kayu bakar di hutan untuk dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Di suatu pagi, Yongker mendayung perahunya menuju Pantai Latulahat untuk mencari kayu bakar di gunung yang ada di sekitar pantai itu. Sesampainya di Pantai Latulahat, Yongker menambatkan perahunya di akar sebuah pohon yang tumbuh di pinggir pantai. Sambil membawa bekalnya, ia berjalan mendaki gunung. Setibanya di puncak, Yongker mulai bekerja, Ia tidak hanya mengumpulkan ranting kayu kering, tetapi juga memotong dahan-dahan kayu yang masih melekat di pohon.

Dahan kayu yang masih basah itu tetap dibiarkan di tempat itu hingga beberapa hari dan baru dibawa pulang setelah kering. Lama-kelamaan, pepohonan di hutan itu menjadi gundul karena dahannya telah habis dipangkasnya.

Saat hari menjelang slang, Yongker beristirahat sejenak sambil menyantap bekal makanan yang dibawanya. Hari sudah mulai gelap. Yongker memutuskan untuk menginap lalu segera mencari tempat untuk beristirahat yang aman. Yongker menemukan tanah lapang yang ditumbuhi oleh rerumputan yang hijau. Dengan perasaan senang, Yongker pun segera merebahkan tubuhnya di atas rerumputan itu. Tubuhnya terasa amat lelah, namun hingga larut malam, ia sulit memejamkan mata karena banyak nyamuk yang mengganggunya.

Yongker terkejut saat tiba-tiba seekor ular raksasa mendekatinya dan langsung menelannya lalu memuntahkannya kembali sesaat kemudian. Yongker terpelanting ke tanah hingga tak sadarkan diri. Beberapa jam kemudian saat ia sadar, tiba-tiba ia mendengar suara bergemuruh, seorang laki-laki tua yang bertubuh tinggi dan besar telah berdiri di depannya.

Yongker sangat takut melihatnya, “Siapa? Siapa kamu?” tanyanya penuh ketakutan.

“Hei anak muda! Siapa namamu dan dari mana asalmu??!” tanya lelaki tua itu dengan suara menggelegar.

“Aku… Aku Yongker dari Manipa, tapi aku tinggal di Benteng,” jawab Yongker dengan gugup.

Laki-laki tua itu tampak berpikir lalu berkata, “Mengapa kamu masuk ke tempatku dan merusak hutan yang ada di daerahku?” tanya lelaki tua itu menyelidik.

Yongker semakin ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar “Ampunilah aku, Kek. Aku ini anak sebatang kara. Untuk bisa bertahan hidup, aku hanya mencari kayu bakar untuk di jual ke pasar,” ungkap Yongker mengiba.

Lelaki tua itu pun terketuk hatinya,”Baiklah, aku maafkan wahai, anak muda. Sekarang mintalah apapun yang kamu minta dariku, pasti kukabulkan,” ujar lelaki tua itu.

“Maaf, Kek. Aku tidak akan meminta apa-apa kepada Kakek. Tapi, apapun yang Kakek berikan akan aku terima dengan senang hati,” jawab Yongker.

“Baiklah, Sekarang pejamkanlah matamu!” seru sang kakek seraya mengambil sepotong bulu yang tumbuh tidak jauh di belakang Yongker. Dengan kesaktiannya, kakek itu menusukkan bulu itu di kepala Yongker hingga tembus ke kaki dan segera mencabutnya kembali. Yongker tidak merasakan sakit sedikit pun.

“Bukalah matamu pelan-pelan,” ujar si kakek. Begitu matanya terbuka, Yongker merasa tubuhnya sangat bertenaga yang luar biasa. “Ketahuilah, anak muda. Aku telah memberimu ilmu kekebalan tubuh. Ilmu itu tidak hanya membuat tubuhmu kebal terhadap segala macam senjata tajam, tetapi juga memiliki kekuatan untuk membela diri,” jelas lelaki tua itu. “Gunakan ilmu itu untuk kebaikan,” pesan sang Kakek lalu menghilang saat si Yongker menoleh ke pohon bulu di belakangnya. Ia melihat bulu itu masih terlihat berdiri dengan tegak.

Pada saat itu pula, ia melihat tujuh helai daun bulu itu terlepas dari tangkainya. Ketujuh helai daun bulu itu kemudian berterbangan hingga jatuh ke tengah-tengah laut. Dan tiba-tiba ia melihat ada tujuh pulau kecil yang muncul di tempat daun itu terjatuh. Kini, pulau-pulau tersebut disebut dengan Pulau Tujuh.

Yongker kembali menoleh ke pohon bulu itu yang sudah tidak ada di tempatnya. Ia bertambah kaget saat mendapati kakek yang telah menolongnya juga pun hilang bersamaan dengan menghilangnya pohon bulu tersebut.

Esok harinya, cepat-cepat Yongker kembali ke perkampungan dan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Yongker senantiasa menggunakan ilmunya untuk menjaga diri dan menolong orang lain. 

Tempat Yongker beristirahat yang hingga kini masih terlihat bersih dan dianggap sebagai tempat keramat oleh penduduk Latulahat. Sementara itu, pohon bulu yang dilihat Yongker disebut dengan nama Bulu Pamali karena tumbuh dan hilang secara misterius.


By @RSW




Legenda Asal Mula Nama Kota Bandung


Alkisah pada zaman dahulu kala di tanah pasundan, di pinggiran sungai Citarum hiduplah seorang kakek tua yang terkenal karena memiliki ilmu sakti mandraguna. Disana Ia tinggal bersama anak perempuannya yang cantik jelita, Sekar

Selain Sekar, Empu Wisesa memiliki 2 orang murid Jaka dan Wira, Ia menemukan mereka ketika masih bayi di sebuah desa yang hancur berantakan karena letusan gunung tangkuban. Ke dua bayi itu kemudian dibawa pulang, dirawat dan diajarkan ilmu oleh Empu Wisesa

Walaupun memiliki guru yang sama, Jaka dan Wira memiliki perangai yang berbeda. Jaka berparas tampan, Ia senang bermain dan pandai bercakap, walaupun pintar namun karena sifat nya yang menggampangkan sesuatu ia jauh ketinggalan dari Wira yang rajin mencari ilmu dan hakikat hidup.

Sifat yang berbeda tersebut tidak membuat mereka berdua berjauhan,  mereka seperti dua orang saudara yang saling tolong dan berbagi rahasia. Namun ada satu hal yang tak mereka ungkapkan satu sama lain, yaitu tentang perasaan mereka terhadap Sekar, putri guru mereka.

Jaka terlebih dahulu menyampaikan maksud hati untuk melamar Sekar kepada Empu Wisesa, karena pandai mengambil hati guru nya, Empu Wisesa tanpa meminta persetujuan anaknya langsung menyetujui lamaran Jaka.  Ia berfikir Sekar pasti juga menyukai Jaka yang rupawan dan pandai bergaul.

Keesokan hari nya Empu Wisesa memanggil Sekar dan kemudian menyampaikan keinginannya untuk menikahkan nya dengan Jaka. Sekar adalah anak yang baik dan berbakti pada orang tua namun baru sekali inilah Sekar membantah orang tuanya, ia menolak keinginan Empu Wisesa, ia mengatakan bahwa Ia mencintai Wira dan hanya mau menikah dengan Wira.

Hal itu membuat Empu Wisesa gundah, sebelumnya Ia sudah menjanjikannya pada Jaka. Agar adil ia kemudian membuat sayembara.

“Baiklah, aku hanya akan menikahkan Sekar dengan orang yang bisa memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.” kata Empu Wisesa.

Jaka merasa itu adalah hal yang mustahil, tidak mungkin memadamkan lahar panas yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Namun didepan Empu Wisesa dia menyanggupi nya dan mengaku ingin mengembara mencari ilmu untuk memadamkan lahar. Terynata ia hanya berfoya-saja.

Sementara itu Wira, berfikir keras mencari tahu bagaimana cara memenangkan sayembara itu.  Dengan tekun setiap hari ia mengitari cekungan luas yang terbentuk oleh lahar panas tersebut, dia tahu hanya air yang bisa mengalahkan api, tapi dari mana dia bisa mendapatkan air sebanyak itu.  

Setahun berlalu namun Ia belum juga menemukan caranya hingga suatu hari dia melihat berang-berang yang sedang membuat bendungan dari ranting-ranting pohon.

“Wah, bagaimana kalau aku membendung sungai Citarum sehingga air nya bisa memadamkan lahar panas” pikir nya dalam hati.

Dengan penuh perhitungan Wira mulai melaksanakan ide nya itu, mula-mula Ia mengungsikan manusia dan hewan-hewan yang ada di cekungan lahar tersebut agar tidak tenggelam oleh air. Kemudian berbekal kesaktian  dari Empu Wisesa, Ia meruntuhkan sebuah bukit  dengan tangan nya,  sehingga tanah dan batuan membendung air sungai. Lama-kelamaan air mulai menggenang, lahar panas menjadi dingin dan cekungan itu berubah menjadi danau yang luas, orang-orang menyebut daerah itu “Danau Bandung”.

Setelah berhasil melewati ujian yang di berikan oleh Mpu Wisesa, ia pun kemudian pulang dan melamar Sekar. Mpu Wisesa sangat senang, murid nya terbukti sangat mencintai anak semata wayang nya, dan mencegah bencana yang bisa muncul akibat lahar panas itu.

Tak lama kemudian mereka pun mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri oleh semua penduduk disekitarnya.  Jaka tidak ada kabar beritanya lagi.

Setelah bertahun-tahun Wira & Sekar dikaruniai banyak anak dan cucu, sementara itu bendungan yang dibuat Wira mulai runtuh akibat debit air yang tinggi.  Lama-lama air di danau itu mulai mengering, tanah nya menjadi subur dan gembur. Akhir nya mereka pun berpindah kesana, tak lupa mengajak penduduk sekitar.

Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai ditinggali dan didatangi pengembara, karena danau nya sudah tidak lagi ada, mereka menyebut nya Bandung. Menurut mitos nya penduduk asli kota Bandung berasal dari keturunan Wira dan Sekar.

Begitulah Legenda fiktif Asal Mula Nama Kota Bandung, yang berasal dari kata “bendung” atau “bendungan” yang dibuat oleh Wira untuk memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.




By. @RSW