Wednesday, January 28, 2026

Pantangan Darah Jawa dan Malam Terakhir Trunojoyo


Di tanah Jawa, kekuasaan bukan sekadar soal siapa yang menang perang. Ia adalah soal darah, titah leluhur, dan pantangan yang tak tertulis namun mengikat lebih kuat dari hukum apa pun.
Trunojoyo tahu itu.
Dan justru karena itulah takdirnya telah diguratkan sejak awal.
Ia bukan orang Jawa.
Ia orang Madura.
Bagi para raja Jawa kala itu, Trunojoyo bukan sekadar pemberontak. Ia adalah ancaman terhadap tatanan kosmis—seperti Ranggalawe dan Aria Wiraraja sebelumnya. Orang-orang Madura yang berani mengangkat kepala, menantang tahta, dan mengguncang keyakinan lama: bahwa tanah Jawa hanya boleh diperintah oleh darah Jawa.
Pantangan itu tak pernah ditulis.
Namun ia hidup, bernafas, dan menuntut korban.
Keraton yang Jatuh dan Raja yang Mati di Pelarian
Pemberontakan Trunojoyo bukan isapan jempol. Ia berhasil melakukan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya: menduduki Keraton Mataram. Istana suci itu jatuh ke tangan seorang Madura.
Amangkurat I, Raja Jawa, lari dalam kehinaan.
Ia wafat bukan di singgasananya, melainkan di pelarian, di tanah Tegal—seperti raja yang kehilangan restu langit.
Bagi orang Jawa, itu bukan sekadar kekalahan militer.
Itu adalah aib peradaban.
Amangkurat II dan Pilihan yang Berdarah
Sebagai putra mahkota, Amangkurat II memikul beban yang tak ringan: mengembalikan martabat Jawa yang diinjak-injak bukan hanya oleh Trunojoyo, tetapi juga oleh kekuatan asing yang bersekutu dengannya—Madura, Makassar, Sunda (Cirebon dan Banten).
Ia sadar, melawan mereka sendirian berarti bunuh diri.
Maka ia melakukan hal yang paling pahit bagi seorang raja Jawa:
bersekutu dengan bangsa asing—VOC.
Harga yang dibayar mahal. Wilayah Mataram terpotong, kedaulatan terkikis. Namun satu hal berhasil diselamatkan:
Tahta Jawa tetap diduduki oleh orang Jawa.
Bagi Amangkurat II, itu adalah pilihan paling kejam namun paling “benar” menurut pantangan leluhur.
Trunojoyo: Raja yang Tak Pernah Dinobatkan
Seandainya sejarah berbelok sedikit saja, para ahli sepakat: Trunojoyo mungkin akan menjadi Raja Jawa. Ia punya dukungan, wilayah, dan momentum.
Namun sejarah tidak berpihak padanya.
Ia kalah. Ditangkap oleh VOC.
Ironisnya, setelah ditangkap, Trunojoyo justru diperlakukan layaknya raja. VOC melihat peluang: seorang figur kuat yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan Jawa dari balik layar.
Namun Amangkurat II membaca permainan itu.
Dan ia tahu satu hal:
Selama Trunojoyo hidup, pantangan Jawa belum ditegakkan.
Payak, 2 Januari 1680
Di sebuah desa bernama Payak, Jawa Timur, dalam sebuah kunjungan yang dibungkus seremoni kehormatan, sejarah mencapai titik akhirnya.
Tak ada perang.
Tak ada teriakan.
Hanya dua lelaki.
Dua takdir.
Dua darah yang tak pernah bisa menyatu.
Dengan tangannya sendiri, Amangkurat II mencabut keris.
Dan dengan tangannya sendiri pula, ia menikam Trunojoyo.
Bukan atas nama dendam.
Bukan atas nama VOC.
Melainkan atas nama pantangan bangsa Jawa.
Trunojoyo wafat hari itu—bukan hanya sebagai pemberontak yang kalah, tetapi sebagai simbol bahwa di tanah Jawa, kekuasaan bukan semata soal keberanian, melainkan soal darah dan restu leluhur.
Dan sejak saat itu, Jawa kembali dipimpin oleh orang Jawa.
Namun sejarah mencatat dengan getir:
Kadang, yang disebut “kemenangan” adalah luka yang diwariskan turun-temurun.

F-15IDN: Ketika Langit Nusantara Dijaga, Dunia Menoleh ke Indonesia


Keputusan Pemerintah Republik Indonesia untuk membeli 24 unit pesawat tempur F-15EX buatan Boeing bukan sekadar transaksi alutsista. Ini adalah pernyataan strategis bangsa—bahwa Indonesia serius menjaga kedaulatan, stabilitas kawasan, dan masa depan generasi rakyatnya.
Langkah ini menjadi sorotan dunia karena Indonesia tercatat sebagai negara kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang akan mengoperasikan pesawat tempur paling mutakhir ini. Ketika tiba di Tanah Air, pesawat tersebut akan resmi menyandang nama F-15IDN, sebuah simbol bahwa teknologi kelas dunia kini berdiri untuk menjaga langit Nusantara.
Bukan Sekadar Pesawat, Ini Investasi Kedaulatan
F-15EX adalah varian terbaru dari keluarga legendaris F-15 yang telah terbukti puluhan tahun dalam operasi tempur. Namun versi EX bukan sekadar pembaruan—ia adalah loncatan besar dalam kekuatan udara modern.
Pesawat ini mampu membawa muatan hingga 29.500 pound (±13.380 kg), menjadikannya salah satu pesawat tempur dengan daya angkut senjata terbesar di dunia. Artinya, satu pesawat F-15IDN mampu menjalankan berbagai misi sekaligus—pertahanan udara, serangan presisi, hingga pengamanan wilayah strategis.
Struktur badannya dirancang sangat kuat, dengan usia pakai hingga 20.000 jam terbang. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya membeli kekuatan instan, tetapi aset jangka panjang yang efisien dan berkelanjutan. Sistem pemeliharaannya pun lebih mudah, sehingga biaya operasional dapat ditekan dan kesiapan tempur tetap optimal.
Terhubung, Modern, dan Siap Perang Masa Depan
Keunggulan lain F-15EX terletak pada konektivitas pertempuran modern. Pesawat ini mampu beroperasi dalam jaringan tempur terpadu, berkomunikasi dengan satelit, UAV (drone), dan pesawat tempur lainnya. Inilah wajah peperangan masa depan—cepat, presisi, dan terkoordinasi.
Dengan kemampuan ini, TNI Angkatan Udara tidak hanya semakin kuat, tetapi juga semakin modern dan adaptif terhadap dinamika ancaman global.
Harga dan Nilai Strategisnya
Menurut laporan Turdef, harga F-15EX pada 2021 berada di kisaran US$ 80 juta per unit (sekitar Rp 1,22 triliun), dengan biaya operasional sekitar US$ 29 ribu per jam terbang.
Sementara laporan Breaking Defense yang mengutip Kementerian Pertahanan AS menyebut harga mencapai US$ 89,8 juta per unit (sekitar Rp 1,37 triliun). Biaya tersebut mencakup badan pesawat, dua mesin, sistem misi tambahan, hingga rekayasa perangkat lunak.
Angka ini bukan sekadar harga, melainkan nilai strategis—investasi untuk memastikan bahwa rakyat Indonesia dapat hidup, bekerja, dan bermimpi di bawah langit yang aman.
Rakyat dan TNI: Satu Tujuan, Satu Langit
Pesawat tempur F-15IDN bukan simbol perang, melainkan simbol penjagaan. Ia hadir agar konflik tidak perlu terjadi. Ia terbang agar Indonesia dihormati, bukan ditantang.
Ketika TNI kuat, rakyat terlindungi. Ketika rakyat mendukung, TNI semakin bermartabat. Inilah hubungan sejati antara militer dan rakyat dalam negara demokrasi yang berdaulat.
Dengan F-15IDN, Indonesia mengirim pesan jelas ke dunia:
Kami cinta damai, tetapi kami siap menjaga kedaulatan sampai titik terakhir.

Sumber: Detik
#F15IDN #AlutsistaIndonesia #TNIKuatRakyatBerdaulat #TNIAU #PertahananNegara #IndonesiaMaju

Ketika Martabat Rakyat Kecil Diuji: Pelajaran Keadilan dari Kisah Tukang Es Gabus

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan gotong royong. Namun, nilai-nilai luhur itu diuji ketika sebuah peristiwa memilukan menimpa Sudrajat (50), seorang tukang es gabus sederhana yang menggantungkan hidupnya dari berjualan di jalanan.

Pada Sabtu, 24 Januari, di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Sudrajat didatangi aparat Bhabinkamtibmas dan Babinsa saat sedang berjualan. Ia dituduh menjual es gabus yang terbuat dari spons—tuduhan yang belum terbukti, namun langsung direspons dengan tindakan yang melukai martabat manusia.
Sebuah video yang kemudian viral memperlihatkan es gabus milik Sudrajat diremas hingga cairannya tumpah ke lantai. Lebih dari itu, sisa es yang dituduh sebagai spons justru dijejalkan ke mulut Sudrajat. Adegan ini mengguncang nurani publik, karena bukan hanya menyentuh soal hukum, tetapi juga nilai kemanusiaan.
Ditemui di rumahnya yang sederhana di sebuah gang sempit di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Sudrajat menceritakan ketakutan yang kini membayangi hidupnya. Ia mengaku trauma dan tidak berani lagi kembali berjualan ke Kemayoran—tempat yang dulu menjadi sumber nafkahnya.
Kisah Sudrajat bukan sekadar tentang seorang tukang es gabus. Ini adalah cermin bagi bangsa Indonesia: sejauh mana kita menjaga sila kedua Pancasila—Kemanusiaan yang adil dan beradab. Aparat negara sejatinya adalah pelindung rakyat, terutama mereka yang kecil dan lemah, bukan sumber ketakutan.
Namun, kekuatan Indonesia justru terlihat dari reaksi masyarakat. Gelombang empati, kritik, dan solidaritas yang muncul menunjukkan bahwa nurani bangsa ini masih hidup. Rakyat bersuara bukan untuk membenci, melainkan untuk mengingatkan bahwa hukum harus ditegakkan dengan akal sehat, dan kewenangan harus dijalankan dengan hati.
Dari Sudrajat, kita belajar bahwa keadilan bukan hanya soal benar dan salah, tetapi juga tentang cara memperlakukan sesama manusia. Indonesia akan tetap kuat bukan karena kekuasaan semata, melainkan karena keberanian untuk mengoreksi diri dan menjunjung martabat setiap warganya—tanpa kecuali.

Sumber: Kumparan

Monday, January 26, 2026

Detektif Rio dan Hari Ketika Langit Membalas


Aku berdiri di tengah pasir Madinah, di antara napas yang tertahan dan doa yang menggantung di udara. Pasukan gajah itu kini begitu dekat. Aku bisa melihat mata mereka—besar, lelah, tapi dipaksa maju oleh kesombongan manusia di punggungnya.

Tanah bergetar.

Setiap langkah gajah terasa seperti palu yang memukul jantungku.

Sebagai detektif, naluriku berteriak:

Tidak ada jalan keluar. Tidak ada taktik. Tidak ada bukti yang bisa membantah kehancuran.

Namun penduduk Madinah tidak lari.

Mereka menunduk.


Langit yang Berubah

Aku mendongak.

Langit yang tadi kelabu kini retak oleh gerakan aneh. Bukan petir. Bukan awan. Tapi titik-titik hitam kecil yang datang dari arah yang tak bisa kutentukan.

Awalnya sunyi.

Lalu terdengar…

kepakan.

Bukan satu. Bukan sepuluh.
Ribuan.
Puluhan ribu.

“Burung…” bisik seseorang di sampingku.
“Ababil,” jawab yang lain, suaranya gemetar—bukan karena takut, tapi karena pengenalan.

Aku menelan ludah.

Nama itu bukan legenda. Ia nyata. Ia sedang turun.


Batu-Batu dari Langit

Aku melihat dengan jelas.

Setiap burung membawa batu kecil di paruh dan cakarnya. Batu itu tampak biasa—tapi ada cahaya aneh di sekelilingnya. Seolah bukan batu bumi, melainkan keputusan langit yang dipadatkan.

Ketika batu pertama dijatuhkan—

tidak ada ledakan.

Tidak ada api.

Hanya suara tumpul, seperti tulang yang patah di dalam tubuh.

Prajurit pertama terjatuh.

Lalu yang kedua.

Lalu puluhan.

Aku menyaksikan tubuh-tubuh yang sebelumnya perkasa kini runtuh tanpa sempat melawan. Gajah-gajah mengamuk, berbalik arah, saling bertabrakan. Panji-panji perang jatuh ke pasir, diinjak oleh kekacauan mereka sendiri.

Aku mencatat secara refleks, seperti kebiasaan lamaku:

  • Tidak ada strategi manusia

  • Tidak ada senjata buatan

  • Tidak ada perlawanan fisik

Yang ada hanya ketetapan.


Ketika Logika Menyerah

Sebagai penyelidik, aku mencoba memahami:
Apakah ini wabah?
Apakah racun?
Apakah fenomena alam?

Namun hatiku lebih cepat menjawab daripada pikiranku.

Ini bukan soal bagaimana.
Ini soal siapa.

Seorang anak kecil di dekatku memegang jubah ibunya dan bertanya polos,
“Apakah Tuhan sedang marah?”

Ibunya menggeleng pelan.
“Tidak, Nak. Tuhan sedang melindungi.”

Kalimat itu menghancurkan benteng skeptisku.


Aku, Saksi yang Tak Tercatat

Ketika burung-burung itu pergi, langit kembali tenang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pasukan yang tadi menjadi ancaman kini tinggal bekas—pelajaran pahit tentang kesombongan yang melampaui batas.

Aku sadar sesuatu yang menggetarkan:

Namaku tidak akan tercatat dalam sejarah.
Tidak ada kitab yang menyebut Detektif Rio berdiri di sini.

Namun aku melihatnya.
Aku mendengarnya.
Aku merasakannya.

Dan itu cukup.

Cahaya putih kembali turun.


Catatan Terakhir

Aku kembali ke perpustakaan dengan tangan gemetar. Kitab itu kini terbuka pada satu halaman kosong.

Aku menulis:

“Pada hari itu, aku belajar:
Langit tidak selalu diam.
Kadang ia menunggu,
hingga manusia lupa diri—
lalu mengingatkan dengan cara yang tak bisa disangkal.”