Hujan tipis menyelimuti desa Cihanaga sore itu ketika Detektif Rio tiba. Desa kecil di Sukabumi itu mendadak ramai diperbincangkan setelah seorang balita, Raya (4 tahun), meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi cacing. Kasus ini membuat gempar seluruh negeri, memunculkan pertanyaan besar: apakah kematian seorang anak kecil benar-benar hanya akibat penyakit, atau ada kelalaian yang lebih dalam?
Rio melangkah perlahan ke balai desa. Di sana, seorang pria paruh baya dengan wajah letih menunggunya. Ia adalah Wardi Sutandi, Kepala Desa Cihanaga, yang namanya juga terseret ke publik.
“Pak Wardi,” Rio membuka percakapan. “Saya datang untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Raya. Banyak suara yang mengatakan kasus ini terkait kemiskinan.”
Rio memperhatikan nada bicaranya. Ada pembelaan yang kuat, tapi juga kegelisahan yang terselip. “Tapi keluarga Raya memang kesulitan ekonomi, bukan?”
Wardi menghela napas. “Saya ini masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Raya. Ayahnya, Udin, itu dulu sering ikut kerja dengan saya. Dari pakaian sampai kebutuhan kecil, kadang saya bantu. Tapi urusan penyakit, itu di luar saya. Ada bidang medisnya. Saya hanya bisa urus KK, KTP, administrasi.”
Detektif itu mencatat. “Administrasi? Saya dengar BPJS-nya bermasalah?”
“Betul,” jawab Wardi, lalu mulai menjelaskan. “Awalnya anak itu dinamakan Rizaludin. Ketika cetak KTP, NIK muncul dengan nama Udin. Jadi kacau. Begitu diajukan ke BPJS, enggak bisa. Hambatan administrasi itu sering sekali terjadi di desa kami, bukan cuma keluarga Raya.”
Rio mengangguk pelan. Baginya, satu potongan kebenaran mulai terlihat: birokrasi yang rumit bisa memperlambat akses kesehatan, terutama bagi keluarga miskin dan rentan.
Wardi menatap kosong sejenak, lalu menjawab, “Kalau ODGJ sih enggak. Cuma… kadang mereka nyambung, kadang enggak. Saya sering lihat Udin pergi ke hutan tanpa baju. Saya kasih baju, eh pas pulang sudah dibuang. Sulit dimengerti perilaku mereka.”
Rio menuliskan detail itu. Gangguan psikologis ringan, ditambah kondisi sosial yang lemah, bisa membuat pengasuhan anak terabaikan. Ia semakin yakin: tragedi ini bukan sekadar penyakit, melainkan kombinasi antara faktor medis, sosial, dan administrasi.
“Pak Wardi, saya juga dengar saat pemakaman, ayah Raya sempat menghilang,” Rio bertanya hati-hati.
“Benar,” Wardi mengangguk pelan. “Kami bingung saat itu. Untung akhirnya pemakaman tetap bisa dilakukan.”
Rio berdiri, memandang keluar jendela ke arah rumah-rumah kecil di desa itu. Ia tahu kasus Raya bukan hanya tentang satu anak, tapi cermin dari ribuan anak lain yang terancam oleh kemiskinan, birokrasi, dan pengasuhan yang rapuh.
Dalam hati, ia berjanji: kematian Raya harus membuka mata semua pihak—bahwa nyawa anak-anak bangsa tidak boleh hilang hanya karena sistem yang lalai menjaga mereka.