Detektif Rio: Roda yang Melindas yang Tertindas


Jakarta, 28 Agustus 2025.
Malam itu, jalanan Pejompongan mendidih oleh teriakan massa. Asap gas air mata bercampur dengan suara klakson dan sorakan demonstran yang menuntut pembubaran DPR. Lampu jalan berpendar muram, seakan menyaksikan sebuah tragedi yang tak bisa dihindari.

Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan hanya berniat mengantarkan pesanan. Jaket hijaunya tampak lusuh, namun matanya fokus menembus kemacetan. Ia tidak pernah tahu bahwa malam itu akan menjadi perjalanan terakhirnya.

Tiba-tiba, suara raungan mesin berat terdengar—mobil rantis Brimob melaju kencang, mendorong massa untuk mundur. Dalam hitungan detik, Affan tidak sempat menghindar. Tubuhnya terpental, lalu terlindas besi baja beroda besar. Orang-orang berteriak panik. Video kejadian itu pun viral, menyulut amarah ribuan orang di media sosial.


Masuknya Detektif Rio

Keesokan harinya, Detektif Rio dipanggil ke lokasi oleh Komnas HAM.
Ia berdiri di tengah jalan Pejompongan yang masih penuh bekas batu, pecahan kaca, dan noda darah yang sudah mengering.

Rio menunduk, memperhatikan jejak ban yang masih terlihat jelas.
“Ban kendaraan taktis jenis Barracuda,” gumamnya. “Tapi kenapa berhenti sebentar, lalu melanjutkan lajunya?”

Seorang saksi bernama Abdul menghampiri Rio.
“Saya lihat langsung, Detektif. Mobil itu ugal-ugalan, kayak memang sengaja nabrak siapa saja di depannya. Affan itu apes, nggak sempat kabur.”

Rio mencatat, lalu meminta rekaman dari kamera CCTV dekat halte Pejompongan. Dari rekaman itu, terlihat mobil rantis memang sempat berhenti setelah melindas korban, lalu tancap gas lagi. Ada jeda 4 detik yang mencurigakan.

“Empat detik... cukup untuk sopir sadar dia melindas seseorang,” kata Rio lirih. “Artinya ini bukan sekadar kecelakaan.”


Pemeriksaan Polisi

Di Mabes Polri, tujuh anggota Brimob yang terlibat diperiksa Propam. Nama-nama mereka tercatat: Komisaris CD, Aipda M, Bripka R, Briptu D, Bripda M, Bharaka Y, dan Bharaka D.

Rio hadir dalam sidang etik internal itu sebagai pengamat independen. Ia memperhatikan ekspresi setiap anggota. Ada yang menunduk, ada yang mencoba menyangkal, ada pula yang dingin tanpa penyesalan.

“Kenapa kalian tidak berhenti menolong korban?” tanya Rio tajam.
Salah satu polisi mencoba menjawab, “Situasi kacau, massa menyerang. Kami harus segera keluar.”
Rio mengetuk mejanya, menahan emosi. “Tapi kalian punya 4 detik. Empat detik itu bisa menyelamatkan nyawa Affan!”


Jejak di Lapangan

Rio kembali ke TKP bersama tim forensik. Dari analisis jejak, posisi motor Affan terjepit antara massa dan mobil rantis. Mustahil ia bisa menyelamatkan diri.

Lebih mengejutkan lagi, Rio menemukan potongan kain jaket Affan yang tersangkut di roda kiri mobil rantis saat diperiksa di markas. Bukti itu menegaskan bahwa kendaraan memang menabrak korban secara langsung, bukan hanya korban jatuh lalu terlindas.





Kesimpulan Sementara

Dalam laporannya, Detektif Rio menulis:

  1. Tindakan mobil rantis Brimob tidak sesuai prosedur pengendalian massa. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arah demonstran tanpa pengamanan perimeter.

  2. Korban Affan Kurniawan bukan bagian dari massa, melainkan pengguna jalan yang terjebak.

  3. Ada unsur kelalaian berat bahkan kemungkinan kesengajaan. Jeda 4 detik setelah korban ditabrak menunjukkan pengemudi sadar, namun memilih tetap melanjutkan.


Refleksi

Rio menatap foto Affan yang terpajang di meja kerjanya. Seorang ayah muda yang hanya berjuang mencari nafkah, tewas di jalan karena kekerasan aparat.

“Affan bukan hanya angka di laporan. Ia manusia, punya keluarga yang menunggu di rumah,” bisik Rio.
Di luar, ratusan driver ojol menyalakan lilin, berbaris diam mengenang sahabat mereka.

Bagi Detektif Rio, kasus ini bukan sekadar investigasi. Ini adalah pertarungan nurani—antara kebenaran, kekuasaan, dan keadilan yang seringkali terkubur di bawah roda besi.


By. @RSW @Septadhana




No comments: