Angin pagi Morowali menusuk lembut jaket tipis yang dikenakan Detektif Rio. Ia menatap gerbang kawasan industri raksasa yang berdiri di hadapannya: Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Di balik pagar tinggi itu, berdiri sebuah bandara yang belakangan menjadi pusat kehebohan nasional.
Rio ditugaskan bukan oleh institusi resmi, melainkan oleh sebuah tim independen yang ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi—bukan spekulasi, bukan rumor, tapi fakta di lapangan.
Bab 1 – Tanda Tanya dari Langit
Ia memutuskan terbang ke Morowali dengan identitas samaran sebagai konsultan logistik.
Bab 2 – Pertemuan di Balik Gudang
Di area gudang dekat landasan, Rio menemui seorang pekerja lokal bernama Arman. Pria itu awalnya enggan bicara, tapi setelah memastikan tidak ada CCTV aktif, ia berbisik:
“Bang Rio… sini memang ketat. Orang luar susah masuk. Bahkan petugas pemerintah pun katanya jarang lihat langsung.”
Rio mengangguk, mencatat cepat.
“Benar tidak, banyak pekerja asing masuk tanpa pemeriksaan penuh?”
Arman menelan ludah. “Saya nggak tahu pasti, Bang. Tapi… pesawat tertentu mendarat malam-malam. Isinya bukan kargo.”
“Orang?”
Arman hanya mengangguk sekali, tegang.
Bab 3 – Menara yang Tak Terjangkau
Rio lalu mencoba mendekati area menara pengawas (ATC). Namun, aksesnya tertutup rapat.
Seorang petugas keamanan menghalanginya.
“Area terbatas, Pak. Hanya staf internal.”
Rio tersenyum ramah. “Saya hanya ingin memeriksa sistem koordinasi penerbangan untuk laporan—”
“Tidak bisa, Pak. Ini fasilitas perusahaan. Bukan umum.”
Kata-kata itu membuat bulu kuduk Rio berdiri. Di kepalanya bergema analisis:
“Jika negara tidak punya akses penuh pada menara, itu bukan sekadar aneh. Itu alarm bahaya.”
Namun, ia tahu ia harus berhati-hati. Terlalu banyak pertanyaan bisa membuatnya hilang sebelum kasus terbuka.
Bab 4 – Dokumen Rahasia dari Jakarta
KM 55/2025 – izin internasional dicabut.
Rio menatap layar tersebut dalam hening.
“Kalau izinnya sudah dicabut sejak Oktober, kenapa penerbangan masih beroperasi penuh? Apa sedang ditutup-tutupi? Atau memang tidak semua pihak dikabari?” batinnya.
Ia mulai merasa puzzle ini jauh lebih besar dari sekadar aturan penerbangan.
Bab 5 – Jejak di Landasan Malam Hari
Rio memutuskan melakukan pengamatan langsung saat malam. Dari balik pepohonan tambun di pinggir perimeter, ia menunggu.
Tepat pukul 01.13 dini hari, lampu landasan menyala. Sebuah pesawat kecil mendarat perlahan.
Bukan pesawat komersial.
Rio memotret dari jauh.
Beberapa sosok turun. Ada pekerja asing, terlihat jelas dari raut wajah dan logat bicara. Tapi yang membuat Rio mengernyit adalah koper terbesar yang diturunkan.
Kotak logam panjang, terlihat berat.
“Tipe kontainer yang biasa dipakai peralatan industri… atau peralatan lain,” pikir Rio.
Tanpa Bea Cukai, isi kotak itu tak mungkin pernah tercatat.
Bab 6 – Suara dari Dalam Kekuasaan
Keesokan harinya, seorang sumber anonim menghubungi Rio. Ia menyebut dirinya hanya sebagai “B”.
Dalam pertemuan singkat di warung kopi pinggir pelabuhan, B berkata:
“Banyak pejabat sudah curiga, Makanya izin internasional dicabut. Tapi beberapa aktivitas lama masih berjalan otomatis.”
“Otomatis? Tanpa laporan?” tanya Rio.
“Ya. Bandara ini dikelola swasta penuh. Negara tidak ikut campur sejak awal. Ini… kekosongan pengawasan.”
Rio memperhatikan mata lelaki itu. Ada rasa takut, tapi juga tekad.
“Kalau kau terus gali, kau akan menemukan hal lebih gelap dari sekadar bandara.”
Bab 7 – Penutup Sementara
Hari terakhir sebelum kembali ke Jakarta, Rio berdiri di tepi landasan. Angin Morowali membawa bau logam dan arang.
Ia belum bisa menyimpulkan apa pun—terlalu banyak yang masih kabur, terlalu banyak celah yang harus diperiksa ulang.
Namun satu hal jelas bagi Detektif Rio:
Bandara IMIP bukan sekadar bandara. Ia adalah simpul dari jaringan kepentingan, kelalaian, tumpang tindih regulasi, dan akses yang terlalu luas bagi pihak non-negara.
Tugasnya baru dimulai.

No comments:
Post a Comment