Monday, December 01, 2025

Detektif Rio menemukan jejak konspirasi di Jakarta

Bab 8 – Bayang-Bayang di Jakarta


Hujan deras menyambut kedatangan Rio di Jakarta. Kota itu tetap hidup seperti biasa—ramai, riuh, dan padat—namun malam itu terasa berbeda. Seakan-akan ibu kota sedang menyembunyikan sesuatu.

Rio langsung menuju safehouse-nya di Menteng, sebuah apartemen kecil yang digunakan untuk operasi penyelidikan. Begitu ia menyalakan perangkat enkripsi, puluhan pesan anonim masuk.

Satu pesan menarik perhatiannya.

Sebuah foto buram:
Seorang pejabat sedang berjabat tangan dengan seorang eksekutif IMIP.
Pada dinding belakang foto terlihat lambang institusi pemerintah.

Disertai pesan:

“Lihat lebih dekat. Jawabanmu tidak ada di Morowali. Ada di Jakarta.”

Rio memperbesar foto itu.
Benar—itu ruangan kantor kementerian.

Sebuah kesimpulan mulai muncul di kepalanya:

Ada tangan-tangan di Jakarta yang sengaja membiarkan celah di IMIP tetap terbuka.


Bab 9 – Pertemuan yang Tak Boleh Terjadi

Rio menelusuri jadwal rapat-rapat internal kementerian. Ia menemukan sebuah “rapat tertutup” yang tidak diumumkan ke publik—hanya orang tertentu yang diundang, digelar di gedung pemerintahan di kawasan Kuningan.

Ia menyamar sebagai petugas kebersihan dan masuk melalui pintu samping.

Dari balik kisi ventilasi lantai dua, ia mengintip ke ruang rapat.

Tampak enam orang:

  • Tiga pejabat tinggi negara.

  • Dua perwakilan perusahaan besar.

  • Satu pria berwajah asing, berbicara dengan aksen kuat.

Pembicaraan mereka samar, namun Rio menangkap bagian-bagian penting:

“—akses ke bandara harus tetap tidak terganggu—”

“—penangguhan pengawasan diperlukan untuk kelancaran—”

“—selama kiriman tidak ditandai, operasi tetap aman—”

Kiriman.
Pengawasan ditangguhkan.
Akses yang tidak boleh terganggu.

Rio mencatat cepat.

Lalu pria beraksen asing itu bicara:

“Pemerintah Anda sudah setuju. Operasi bandara berjalan sesuai kesepakatan.”

Jantung Rio berdegup keras.

Ini bukan soal miss-management. Ini kesepakatan.
Kesengajaan.


Bab 10 – Berkas yang Tersembunyi di Tempat Terbuka

Kembali ke apartemen, Rio menelusuri dokumen-dokumen yang mengatur penerbangan. Ia memeriksa aturan terbaru, KM 55/2025, lalu aturan sebelumnya.

Awalnya tak ada yang aneh.

Hingga ia menemukan satu catatan kaki kecil—hampir tak terlihat:

Lampiran C: Arsip Protokol Sementara.

Rio membuka dokumen itu.

Di dalamnya terdapat klausul tersembunyi:

“Penerbangan non-reguler untuk keperluan industri strategis dapat dikecualikan dari kehadiran penuh petugas bea cukai, imigrasi, dan karantina, kecuali jika dinyatakan sebaliknya.”

Rio menggeleng pelan.

Ini jelas celah.
Celah yang dibuat oleh seseorang.


Bab 11 – Saksi yang Menghilang

Pagi harinya, Rio membuat janji bertemu “B”—sumber dari Morowali yang mengaku punya bukti tambahan.

Tempatnya di sebuah warung kopi di Pasar Senen.

Rio tiba lebih awal. Hujan turun, jalanan becek. Motor dan bajaj hilir-mudik.

Lima belas menit.
Dua puluh.
Tiga puluh.

“B” tak muncul.

Hingga akhirnya Rio menerima pesan pendek:

“Jangan cari saya. Mereka sudah tahu.”

Rio menegang.

Ia membalas:
“Siapa yang tahu?”

Tidak ada jawaban.
Hanya tiga titik…
lalu menghilang.

Rio sadar.

Permainannya kini menjadi berbahaya. Seseorang sedang mengawasinya.


Bab 12 – Ekor yang Mengikuti

Sore itu, saat Rio berjalan melewati jembatan dekat Monas, ia merasakan sesuatu.

Seseorang mengikutinya.

Ia mempercepat langkah. Bayangan itu ikut cepat.
Rio memperlambat langkah. Bayangan itu ikut melambat.

Seorang pria berjaket abu-abu, berpura-pura memainkan ponsel.

Rio memasuki pasar kecil, melewati lapak sayur dan pedagang kain. Keramaian menutupi jejaknya. Ia melompat keluar lewat pintu belakang toko.

Mengintip dari jauh, ia melihat pria itu menoleh kiri-kanan, mencari Rio.

“Mereka tahu aku sudah terlalu dekat.”


Bab 13 – Rahasia dalam Map Hitam

Malam itu, Rio menghubungi Inspektur Nadine, mantan rekan kerja yang kini bekerja di unit pengawasan kementerian.

Mereka bertemu diam-diam di rooftop gedung tinggi kawasan Sudirman.

Nadine membawa sebuah map hitam.

“Aku tidak boleh memberikan ini ke siapa pun,” katanya pelan. “Tapi kalau apa yang kamu curigai benar… negara sedang bermain api.”

Rio membuka map itu.

Di dalamnya ada:

  • Memo internal soal izin pendaratan “khusus”

  • Dokumen pengecualian keimigrasian

  • Surat koordinasi antara pihak swasta dan konsultan tak bernama

  • Daftar kiriman yang hanya diberi label “Peralatan industri”

Namun satu dokumen paling membuat darah Rio dingin:

Analisis Risiko: Potensi masuknya personel asing dengan latar belakang pelatihan militer melalui titik yang tidak diawasi.

Rio menghela napas panjang.

Nadine berkata lirih:

“Penanggung jawabnya… bukan orang kecil, Rio.”


Bab 14 – Sebuah Nama Muncul

Rio membuka lembar terakhir dalam map itu.

Ada sebuah tanda tangan.

Sebuah nama.

Seorang pejabat berpengaruh di Jakarta.
Seseorang yang memiliki kewenangan mengatur jalur udara, regulasi bandara, dan izin operasi khusus.

Seseorang yang sejak awal memastikan IMIP tetap berada di luar jangkauan pengawasan negara.

Rio memejamkan mata sesaat.

Kini ia tahu siapa dalangnya.

Dan ia tahu…

Orang itu tidak akan membiarkannya hidup jika kebenaran ini terbongkar.

 

#rsw


No comments: