Saturday, December 13, 2025

Ketika Banjir Solo 1966 Menghanyutkan Mayat-mayat Korban Penumpasan PKI

Latar Belakang Politik Pasca 30 September 1965



Pada 30 September 1965, terjadi penculikan terhadap sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat di Jakarta. Peristiwa ini segera diikuti dengan penguatan stigma bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah pihak yang jahat, kejam, dan bertanggung jawab atas kekacauan nasional. Situasi politik dan keamanan pun memburuk di berbagai daerah, termasuk Surakarta (Solo).

Galih Pranata, peneliti sejarah sekaligus kontributor National Geographic Indonesia, menulis bahwa kondisi Surakarta menjadi sangat genting pasca peristiwa tersebut.



Ketegangan di Surakarta


Dalam suasana penuh ketakutan, banyak warga memilih mengungsi sementara. Salah satunya adalah Mulyadi, yang bersama istri dan anaknya memutuskan untuk tidak tidur di rumah. Menurut kesaksian Ahsanudin, anak Mulyadi, kepada Galih Pranata, mereka meninggalkan rumah sejak 2 Oktober hingga 22 Oktober 1965 demi menghindari situasi yang tidak menentu.




Operasi Penumpasan oleh RPKAD

Tak lama kemudian, digelar operasi pembersihan besar-besaran yang dipimpin oleh Resimen Para-Komando Angkatan Darat (RPKAD)—satuan elite yang kelak dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kota Solo menjadi salah satu sasaran utama operasi ini.

Dalam operasi tersebut, RPKAD bekerja sama dengan berbagai organisasi massa dan kepemudaan, antara lain:


  • Barisan Serba Guna (Banser) Pemuda Ansor

  • Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

  • Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII)

  • Muhammadiyah

  • serta organisasi lainnya

Bersama-sama, mereka memburu simpatisan komunis, termasuk anggota Pemuda Rakyat dan PKI, hingga ke pelosok-pelosok Kota Solo. Mulyadi disebut turut terlibat dalam proses tersebut.




Penangkapan dan Pembunuhan Massal


Penangkapan besar-besaran berlangsung sepanjang 1965 hingga 1966. Mereka yang ditangkap dikumpulkan di beberapa lokasi, seperti Sasana Mulya dan Pagelaran Keraton Surakarta.


Setelah melalui interogasi, para tahanan kemudian dibunuh.

“Mereka mengalami tekanan mental terlebih dahulu, lalu ditembak, setelah itu dibuang ke sepanjang Bengawan,” ujar Ahsanudin kepada Galih Pranata.




Mayat-mayat di Bengawan Solo


Pada saat itu, kondisi Bengawan Solo masih dalam musim kemarau sehingga permukaan air sungai surut. Akibatnya, mayat-mayat korban pembantaian terlihat bergelimpangan di sepanjang aliran sungai.


Namun situasi berubah drastis ketika musim hujan datang.




Banjir Besar Awal 1966


Sepanjang Februari 1966, wilayah Wonogiri, yang merupakan hulu Bengawan Solo, diguyur hujan lebat secara terus-menerus. Banjir besar pun tak terhindarkan. Air sungai meluap dan mengalir deras hingga ke wilayah hilir.


Galih Pranata mencatat bahwa banjir ini menyebabkan tanggul di kawasan Semanggi jebol, sehingga air menggenangi sebagian besar Kota Solo.




Mayat-mayat Hanyut dan Redanya Ketegangan


Selain merendam kota, banjir besar tersebut juga menghanyutkan mayat-mayat korban penumpasan PKI yang sebelumnya terlihat di sepanjang Bengawan Solo. Arus sungai membawa jasad-jasad itu hingga menghilang dari pandangan warga.


Menurut Galih, seiring dengan hilangnya mayat-mayat tersebut, kegaduhan sosial dan politik yang berkaitan dengan PKI di Solo pun perlahan mereda pascabanjir.




Penutup

Peristiwa Banjir Solo 1966 bukan sekadar bencana alam, tetapi juga menjadi saksi bisu dari kekerasan politik dan tragedi kemanusiaan pasca 1965. Air bah Bengawan Solo seolah menutup satu babak kelam sejarah, namun jejak luka dan trauma peristiwa tersebut tetap membekas dalam ingatan kolektif masyarakat.

No comments: