Saturday, December 13, 2025

Takasago Giyutai (Pasukan Santu): Pasukan Pribumi Taiwan dalam Tentara Jepang dan Tragedi di Tangerang



Takasago Giyutai (Pasukan Santu): Pasukan Pribumi Taiwan dalam Tentara Jepang dan Tragedi di Tangerang

Pendahuluan

Dalam sejarah pendudukan Jepang di Indonesia, terdapat satu kesatuan militer yang jarang dibahas: Takasago Giyutai, pasukan relawan Kekaisaran Jepang yang berasal dari penduduk asli Taiwan. Di wilayah Tangerang, pasukan ini dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Pasukan Santu. Meski keberadaannya relatif terlupakan, pasukan ini memainkan peran penting dalam peristiwa berdarah yang menewaskan Mayor Daan Mogot dan puluhan taruna Akademi Militer Tangerang.


Asal-usul Takasago Giyutai

Ketika Jepang mendarat di Pulau Jawa pada 1942, tidak seluruh pasukan Dai Nippon berasal dari Jepang. Sekitar 3.000 tentara adalah orang Korea, dan sebagian lainnya—dengan jumlah yang tidak diketahui—berasal dari pribumi Taiwan. Dalam literatur militer Jepang, kelompok terakhir ini disebut Takasago Giyutai.

  • Takasago adalah istilah kuno dalam bahasa Jepang untuk menyebut Taiwan

  • Giyutai berarti pasukan relawan

Penduduk Desa Lengkong, Sampora, dan Situgadung di wilayah Tangerang Selatan serta Kabupaten Bogor menyebut mereka Pasukan Santu. Asal-usul nama ini tidak diketahui secara pasti, namun istilah tersebut hidup dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.


Identitas yang Disalahpahami

Masyarakat Tangerang mengetahui bahwa Pasukan Santu bukan orang Jepang, melainkan berasal dari Taiwan. Namun karena Taiwan dipahami sebagai bagian dari Cina, mereka dianggap sebagai orang Cina. Kesalahpahaman inilah yang kelak berujung pada pelampiasan kebencian terhadap warga Cina Benteng, penduduk Tionghoa lokal Tangerang.

Padahal, Takasago Giyutai berasal dari suku-suku asli Taiwan, seperti Bunun, Amis, Atayal, dan lainnya. Mereka tidak mengidentifikasi diri sebagai orang Cina atau Tionghoa.


Rekrutmen dan Peran dalam Perang Pasifik

Setelah Perang Cina–Jepang Pertama, Dinasti Qing menyerahkan Taiwan kepada Jepang. Sementara penduduk Han (Tionghoa) terus melakukan perlawanan, penduduk asli Taiwan di pedalaman justru menyambut Jepang.

Setelah serangan Jepang ke Pearl Harbour (1941), Jepang merekrut penduduk asli Taiwan sebagai bagian dari mesin perangnya. Menurut Lin Poyer dan Futuru C. L. Tsai dalam Wartime Experiences and Indigenous Identities in the Japanese Empire, jumlah Takasago Giyutai diperkirakan mencapai 8.000 orang, dibentuk antara 1941–1942 dan terbagi dalam delapan korps.

Awalnya mereka bertugas sebagai:

  • Pembawa logistik dan perlengkapan perang

  • Petugas dapur dan barak

Namun menurut Huang Chich-huei dalam The Yamatodamashi of the Takasago Volunteers of Taiwan, mereka juga terlibat langsung dalam pertempuran.

Takasago Giyutai disebar ke berbagai medan Perang Pasifik, seperti:

  • Kepulauan Solomon

  • Papua Nugini

  • Papua

  • Filipina

Di Filipina, bahkan sebelum pasukan Kamikaze dibentuk, Takasago Giyutai sudah menjalankan misi bunuh diri untuk menahan laju Sekutu di Pulau Leyte.


Nipponisasi dan Loyalitas

Takasago Giyutai dikenal sebagai pasukan non-Jepang yang sangat loyal kepada Kekaisaran Jepang. Mereka:

  • Menggunakan nama Jepang

  • Berbicara dalam bahasa Jepang

  • Menjalankan ritual Shinto

  • Menyatakan kesetiaan penuh kepada Kaisar Hirohito

Sebelum mengalami proses Nipponisasi, suku-suku ini dianggap “barbar” dan tidak berpendidikan. Satu-satunya pendidikan formal yang mereka terima adalah pelatihan militer di Nakano Academy.


Takasago Giyutai di Tangerang

Tidak ada catatan resmi mengenai:

  • Jumlah Takasago Giyutai di Pulau Jawa

  • Korps mana yang ditempatkan di Desa Lengkong

  • Keterlibatan mereka dalam operasi militer di Indonesia

Namun yang pasti, sejak kedatangan mereka pada 1942, Pasukan Santu tidak pernah terlibat dalam operasi tempur terbuka. Meski demikian, menurut Muhammad Reza Zaini, selama bermukim di Desa Lengkong, Pasukan Santu dikenal sangat kejam terhadap penduduk lokal.

Kebencian warga Tangerang memuncak menjelang akhir pendudukan Jepang. Mayor RHA Saleh dalam Akademi Militer Tangerang dan Peristiwa Lengkong mencatat bahwa kemarahan ini sempat memicu pemberontakan lokal, meski dengan mudah dipatahkan oleh Pasukan Santu.


Peristiwa Lengkong dan Dampaknya

Dalam Peristiwa Lengkong, Pasukan Santu terlibat dalam insiden yang menewaskan:

  • Mayor Daan Mogot

  • Letnan Soebijanto Djojohadikusumo

  • 33 taruna Akademi Militer Tangerang

Termasuk di antara korban adalah adik Soebijanto, paman dari Presiden Prabowo Subianto.


Peristiwa Gedoran

Setelah tentara Sekutu melucuti dan membawa Pasukan Santu ke Jakarta, kemarahan rakyat tidak mereda. Kebencian kemudian dialihkan kepada warga keturunan Tionghoa (Cina Benteng).

Terjadilah Peristiwa Gedoran, dinamai dari cara penyerangan:

  • Pintu rumah digedor keras

  • Serangan dilakukan secara mendadak

Peristiwa ini hampir melanda seluruh warga Tionghoa di Desa Lengkong, Sampora, dan Situgadung, bahkan menyebar ke seluruh wilayah Tangerang.

Menurut kesaksian yang dikutip Muhammad Reza Zaini dari tokoh Vihara Boen Tek Bio, pemicu Gedoran antara lain:

  • Isu ketidaksetiaan warga Tionghoa kepada Republik Indonesia

  • Tuduhan penurunan bendera Merah Putih

Pelaku Gedoran tidak hanya berasal dari laskar rakyat, tetapi juga Laskar Hitam, pasukan jawara yang menjadi bagian dari pemerintahan Bapak Rakyat Tangerang di bawah pimpinan Achmad Chairun.


Penutup

Takasago Giyutai atau Pasukan Santu adalah contoh bagaimana pasukan kolonial yang terlupakan dapat meninggalkan jejak traumatis yang panjang. Kesalahpahaman identitas, kekerasan militer, dan dendam sosial bercampur menjadi tragedi yang tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memperdalam luka antar-etnis di Tangerang pasca-kemerdekaan.


@RSW


No comments: