Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan gotong royong. Namun, nilai-nilai luhur itu diuji ketika sebuah peristiwa memilukan menimpa Sudrajat (50), seorang tukang es gabus sederhana yang menggantungkan hidupnya dari berjualan di jalanan.
Pada Sabtu, 24 Januari, di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Sudrajat didatangi aparat Bhabinkamtibmas dan Babinsa saat sedang berjualan. Ia dituduh menjual es gabus yang terbuat dari spons—tuduhan yang belum terbukti, namun langsung direspons dengan tindakan yang melukai martabat manusia.
Sebuah video yang kemudian viral memperlihatkan es gabus milik Sudrajat diremas hingga cairannya tumpah ke lantai. Lebih dari itu, sisa es yang dituduh sebagai spons justru dijejalkan ke mulut Sudrajat. Adegan ini mengguncang nurani publik, karena bukan hanya menyentuh soal hukum, tetapi juga nilai kemanusiaan.
Ditemui di rumahnya yang sederhana di sebuah gang sempit di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Sudrajat menceritakan ketakutan yang kini membayangi hidupnya. Ia mengaku trauma dan tidak berani lagi kembali berjualan ke Kemayoran—tempat yang dulu menjadi sumber nafkahnya.
Kisah Sudrajat bukan sekadar tentang seorang tukang es gabus. Ini adalah cermin bagi bangsa Indonesia: sejauh mana kita menjaga sila kedua Pancasila—Kemanusiaan yang adil dan beradab. Aparat negara sejatinya adalah pelindung rakyat, terutama mereka yang kecil dan lemah, bukan sumber ketakutan.
Namun, kekuatan Indonesia justru terlihat dari reaksi masyarakat. Gelombang empati, kritik, dan solidaritas yang muncul menunjukkan bahwa nurani bangsa ini masih hidup. Rakyat bersuara bukan untuk membenci, melainkan untuk mengingatkan bahwa hukum harus ditegakkan dengan akal sehat, dan kewenangan harus dijalankan dengan hati.
Dari Sudrajat, kita belajar bahwa keadilan bukan hanya soal benar dan salah, tetapi juga tentang cara memperlakukan sesama manusia. Indonesia akan tetap kuat bukan karena kekuasaan semata, melainkan karena keberanian untuk mengoreksi diri dan menjunjung martabat setiap warganya—tanpa kecuali.
Sumber: Kumparan
No comments:
Post a Comment