Monday, January 26, 2026

Detektif Rio dan Hari Ketika Langit Membalas


Aku berdiri di tengah pasir Madinah, di antara napas yang tertahan dan doa yang menggantung di udara. Pasukan gajah itu kini begitu dekat. Aku bisa melihat mata mereka—besar, lelah, tapi dipaksa maju oleh kesombongan manusia di punggungnya.

Tanah bergetar.

Setiap langkah gajah terasa seperti palu yang memukul jantungku.

Sebagai detektif, naluriku berteriak:

Tidak ada jalan keluar. Tidak ada taktik. Tidak ada bukti yang bisa membantah kehancuran.

Namun penduduk Madinah tidak lari.

Mereka menunduk.


Langit yang Berubah

Aku mendongak.

Langit yang tadi kelabu kini retak oleh gerakan aneh. Bukan petir. Bukan awan. Tapi titik-titik hitam kecil yang datang dari arah yang tak bisa kutentukan.

Awalnya sunyi.

Lalu terdengar…

kepakan.

Bukan satu. Bukan sepuluh.
Ribuan.
Puluhan ribu.

“Burung…” bisik seseorang di sampingku.
“Ababil,” jawab yang lain, suaranya gemetar—bukan karena takut, tapi karena pengenalan.

Aku menelan ludah.

Nama itu bukan legenda. Ia nyata. Ia sedang turun.


Batu-Batu dari Langit

Aku melihat dengan jelas.

Setiap burung membawa batu kecil di paruh dan cakarnya. Batu itu tampak biasa—tapi ada cahaya aneh di sekelilingnya. Seolah bukan batu bumi, melainkan keputusan langit yang dipadatkan.

Ketika batu pertama dijatuhkan—

tidak ada ledakan.

Tidak ada api.

Hanya suara tumpul, seperti tulang yang patah di dalam tubuh.

Prajurit pertama terjatuh.

Lalu yang kedua.

Lalu puluhan.

Aku menyaksikan tubuh-tubuh yang sebelumnya perkasa kini runtuh tanpa sempat melawan. Gajah-gajah mengamuk, berbalik arah, saling bertabrakan. Panji-panji perang jatuh ke pasir, diinjak oleh kekacauan mereka sendiri.

Aku mencatat secara refleks, seperti kebiasaan lamaku:

  • Tidak ada strategi manusia

  • Tidak ada senjata buatan

  • Tidak ada perlawanan fisik

Yang ada hanya ketetapan.


Ketika Logika Menyerah

Sebagai penyelidik, aku mencoba memahami:
Apakah ini wabah?
Apakah racun?
Apakah fenomena alam?

Namun hatiku lebih cepat menjawab daripada pikiranku.

Ini bukan soal bagaimana.
Ini soal siapa.

Seorang anak kecil di dekatku memegang jubah ibunya dan bertanya polos,
“Apakah Tuhan sedang marah?”

Ibunya menggeleng pelan.
“Tidak, Nak. Tuhan sedang melindungi.”

Kalimat itu menghancurkan benteng skeptisku.


Aku, Saksi yang Tak Tercatat

Ketika burung-burung itu pergi, langit kembali tenang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pasukan yang tadi menjadi ancaman kini tinggal bekas—pelajaran pahit tentang kesombongan yang melampaui batas.

Aku sadar sesuatu yang menggetarkan:

Namaku tidak akan tercatat dalam sejarah.
Tidak ada kitab yang menyebut Detektif Rio berdiri di sini.

Namun aku melihatnya.
Aku mendengarnya.
Aku merasakannya.

Dan itu cukup.

Cahaya putih kembali turun.


Catatan Terakhir

Aku kembali ke perpustakaan dengan tangan gemetar. Kitab itu kini terbuka pada satu halaman kosong.

Aku menulis:

“Pada hari itu, aku belajar:
Langit tidak selalu diam.
Kadang ia menunggu,
hingga manusia lupa diri—
lalu mengingatkan dengan cara yang tak bisa disangkal.”


No comments: