Ketika Ia Memilih Budak yang Dianggap Paling Rendah—Tanpa Tahu Siapa Dia Sebenarnya
Mereka memanggilnya Ezra si Lembu.
Nama itu bukan panggilan sayang—melainkan ejekan.
Tubuhnya sangat besar, hampir 300 pon. Wajahnya bulat, giginya tidak rapi, langkahnya lamban, dan tatapannya kosong. Saat berjalan, tubuhnya tampak gemetar seolah setiap langkah adalah beban berat. Di seluruh Chattam County, ia dikenal sebagai budak paling tidak berguna.
Karena itulah, ketika seorang wanita muda nan cantik bernama Victoria Ashford menunjuknya di pelelangan dan berkata santai,
“Aku mau yang itu. Untuk hiburan pribadiku.”
tawa meledak di antara kerumunan.
Tak seorang pun mengerti bahwa pria yang dibeli hanya dengan 35 dolar itu bukanlah budak bodoh seperti yang mereka kira.
Ia adalah Elijah Freeman—seorang profesor matematika jenius dari Philadelphia.
Dan selama dua tahun, ia telah bersembunyi di depan mata semua orang, menunggu momen ini.
Victoria Ashford: Cantik, Kaya, dan Kejam
Tahun itu 1847.
Victoria Ashford baru berusia 25 tahun ketika ia mewarisi Perkebunan Willowbrook setelah suaminya yang jauh lebih tua meninggal secara mendadak. Beberapa orang berbisik—kematian itu bukan sepenuhnya kebetulan.
Dengan kulit pucat seperti porselen, rambut hitam legam, dan mata biru dingin, Victoria dikenal sebagai wanita tercantik sekaligus paling ditakuti di Georgia.
Para pria menginginkannya.
Para wanita iri kepadanya.
Para budak… berdoa agar tak pernah menarik perhatiannya.
Victoria tidak sekadar kejam seperti pemilik perkebunan lain.
Ia menikmati penderitaan—secara pribadi, perlahan, dan penuh perhitungan.
Budak-budak pilihannya yang dulu, yang ia sebut “peliharaan”, tak satu pun berakhir baik.
Ada yang mengakhiri hidupnya sendiri.
Ada yang melarikan diri ke rawa dan tak pernah kembali.
Ada pula yang kehilangan kewarasannya.
Kini, ia bosan.
Dan ia ingin mainan baru.
Pelelangan yang Mengundang Tawa
Di pagi yang terik, Ezra berdiri di atas panggung pelelangan. Tubuhnya membungkuk, matanya menatap tanah. Juru lelang menjelaskannya tanpa simpati:
“Kuat kalau dipaksa. Bodoh. Tak bisa membaca. Tak bisa berhitung. Makan banyak. Tidak berharga.”
Tak ada yang menawar.
Hingga Victoria melangkah maju.
Ia mengamati Ezra seperti benda mati, lalu tersenyum—senyum yang indah sekaligus menakutkan.
“Sempurna,” katanya pelan.
“Aku ambil. Tiga puluh lima dolar.”
Orang-orang terkejut.
Seorang wanita sekaya Victoria membeli budak paling menyedihkan?
Mereka tak tahu: Ezra adalah penyamaran.
Siapa Ezra Sebenarnya
Nama aslinya Elijah Freeman.
Ia lahir sebagai orang merdeka di New York, anak dari orang tua yang berhasil melarikan diri dari perbudakan. Otaknya luar biasa. Sejak muda, ia telah memecahkan soal matematika yang membingungkan para akademisi.
Namun hukum kejam Amerika tak mengenal keadilan.
Di bawah Undang-Undang Budak Buronan, seorang pemburu budak memalsukan dokumen dan mengklaim Elijah sebagai milik perkebunan di Selatan.
Elijah punya dua pilihan:
ditangkap… atau menghilang.
Ia memilih menjadi tak terlihat.
Ia menciptakan Ezra—sosok yang dianggap bodoh, lamban, dan tak berarti. Ia melatih tubuh dan ekspresinya, mengubah cara berjalan dan berbicara, bahkan menambah berat badan. Ia rela dipukul, dihina, dan dipandang rendah, demi satu tujuan.
Tujuan Sebenarnya
Elijah bukan hanya ingin bertahan hidup.
Ia ingin menghancurkan sistem.
Selama bertahun-tahun, ia menelusuri jaringan keuangan perbudakan: bank, pengusaha, keluarga kaya. Dan keluarga Ashford berada di pusat jaringan itu.
Dengan dibeli Victoria, ia mendapatkan akses ke rumah besar, dokumen rahasia, dan percakapan penting—semua karena ia dianggap tidak punya otak.
Setiap penghinaan, setiap tawa, setiap perintah kejam…
Elijah menyimpannya sebagai harga yang harus dibayar.
Kesalahan Fatal Victoria
Victoria yakin ia sedang menghancurkan manusia.
Padahal, ia sedang memberi jalan bagi seseorang yang akan membuka seluruh rahasianya.
Ezra si Lembu bukan korban.
Ia adalah badai yang tenang—menunggu waktu.
Dan ketika saat itu tiba,
Victoria Ashford akan menyadari satu hal terlambat:
👉 Budak yang ia anggap paling rendah… adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
No comments:
Post a Comment