Ada seorang sahabat bernama Tsauban. Ini masyaAllah. Tsauban ini rajin salat berjamaah. Sahabat Nabi sangat saleh, rajin ibadahnya dan tidak pernah meninggalkan ibadah di masjid dan posisinya selalu pojok kanan. Pojok kanan. Tapi niatnya bukan ingin pojok.
Niatnya bagaimana saya bisa khusyu' ibadah dan tidak mengganggu orang. Karena biasanya posisi di pojok itu pada umumnya tidak banyak singgungan dengan orang lain, tidak banyak singgungan dengan orang lain. Maka masyaAllah, maka ketika datang ibadah, ramai masjid dan sebagainya. Sampai suatu ketika saya persingkat dalam shalat subuh beliau tidak datang.
Ditunggu oleh Nabi. Sampai Nabi bertanya begini, "Ke mana Tsauban?" RadiAllahu ta'ala anh. "Ke mana Tsauban?" Tidak ada yang tahu. Sampai ketahuan oleh Nabi tuh. Ini orang satu orang gak datang aja oleh Nabi ketahuan. Disimpulkan, ke mana nih? Gak ada gitu. Tapi sahabat mengatakan, "Kami tidak tahu ya Rasulullah," kan. Apa yang terjadi? Ditunggu oleh Nabi.
Saking seringnya salat berjamaah, Nabi tidak ingin orang ini ketinggalan. Ditunggu sampai agak kemudian lewat waktunya mulai berlanjut, berlanjut. Diputuskanlah untuk dilakukan salat karena dikhawatirkan habis waktu subuhnya. Salat ditunaikan. Selesai menunaikan salat diputuskan untuk menengok sahabat tadi.
Perhatikan, orang sering ke masjid tidak ada di masjid, Nabi masih mengajak sahabat untuk menengok. Itulah jemaah. Anda tahu ketika menengok itu, ditelusuri jalan ke rumahnya itu ternyata jarak yang ditempuh tiga jam. Tiga jam. Nah, yang paling ingin saya sampaikan ketika ditengok, istrinya kemudian boleh keluar mengatakan, "Tuwafiya zawji." "Aina Tsauban? Ke mana Tsauban?" Kata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kata istrinya, "Qad tuwafiya."
Dia sudah wafat. Meninggal. Lalu Nabi berkata, perhatikan kalimatnya, "Apakah ada yang terjadi sebelum dia meninggal?" Ini yang harus kita catat. Apa yang terjadi? Kata istrinya, "Saya tidak merasa ada yang istimewa, tapi saya tidak memahami tiga kalimat yang diucapkan." Tiga kalimat. Apa itu? Nah ini hikmahnya yang harus kita tangkap.
Sebelum beliau meninggal dalam sakaratul mautnya, beliau mengatakan, "Kenapa gak lebih jauh lagi?" Katanya. Kalimat pertama. Saya tidak paham itu. Kalimat kedua, "Kenapa bukan yang baru?" Katanya kan. Kenapa bukan yang baru? Dan kalimat ketiga, "Kenapa tidak semuanya aja?" Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tersenyum lantas menyampaikan karena turun berita dari langit penyampaian.
Teman-teman sekalian, ketika Tsauban mengatakan kenapa tidak lebih jauh lagi, kita mesti pahami sebelum seseorang meninggal dunia dalam sakaratul mautnya, itu akan ditampakkan keadaan amalnya.
Ketika beliau berangkat ke masjid ditampakkan pahala-pahala kebaikannya maka dia katakan, "Ya Allah kenapa gak lebih jauh lagi masjidnya sehingga ketika saya jalan itu mendapatkan lebih daripada itu." Bukankah langkah pertamanya mengangkat derajat di sisi Allah. Langkah keduanya menggugurkan dosa yang di bawah. Masjidnya tempatnya dua puluh lima lebih bagus daripada tempat biasa.
Yang satu keduanya lima ratus tahun, dua ketiganya lima ratus tahun, tiga keempatnya lima ratus tahun. Kata sahabat Tsauban, "Ya Allah kenapa gak lebih jauh lagi?" Yang kedua, ternyata ketika musim dingin beliau berjalan, beliau menggunakan pakaian double. Yang paling dalam itu pakaian barunya, yang luar pakaian lamanya.
Di jalan bertemu dengan seorang kedinginan maka dilepaskanlah pakaian yang luar yang lamanya dipakaikan pada orang tadi supaya tidak kedinginan. Ketika ditampakkan pahalanya beliau berkata, "Ya Allah kenapa bukan yang baru yang dulu saya pernah berikan? Kenapa bukan yang baru?" Allahu Akbar. Dan terakhir mengatakan kenapa bukan semuanya.
Karena beliau terbiasa bersedekah pada orang, memberikan kebaikan-kebaikan, kadang-kadang berbagi dengan orang lain. Ketika ditampakkan pahalanya, "Ya Allah kenapa gak semuanya aja dulu saya kerjakan." Ada penyesalan dalam jiwanya. Anda bayangkan seorang sahabat mulia saja masih menyesal dengan amalnya. Maka bagaimana dengan orang-orang yang belum sesempurna kebaikan-kebaikannya seperti itu. Jangan sampai meninggal dunia lantas dikatakan, Fa'asaddaqo waakum minash shalihiin.
Beri kesempatan, Ya Allah, walau sebentar. Saya ingin berbuat baik. Saya ingin berbuat baik. Saya ingin berbuat baik. Zaman dulu tidak ada kendaraan bahkan untuk urusan sepeda. Kendaraan yang saya maksud bukan hewan. Sepeda enggak ada, motor enggak ada, mobil enggak ada. Jarak dari rumah ke masjid tiga jam. Yang masjidnya tidak ada karpetnya, langsung tanah. Yang tiang-tiangnya pelepah kurma, yang atapnya dari daun-daun kurma, masih mau ke masjid dengan jalan kaki. Sahabat mulia, luar biasa, dekat dengan Allah.
Ke surganya begitu dekat. Jarak rumah ke masjid jauh dengan masjid seadanya masih mau ke masjid menempuh langkah tiga jam dan masih ditengok oleh sahabat. Anda bukan sahabat Nabi, tetangga Nabi juga bukan. MasyaAllah surga belum jelas sampai hari ini. Kan hisab masih menegangkan, amalan berantakan, kurang apa lagi?
#ilmuislam
#kajianislam
#dakwahislam
#nasehatislam
#motivasiislam
#edukasiislam
No comments:
Post a Comment
Thanks you