Sunday, April 05, 2026

Sahabat Nabi : Kisah sahabat nabi yang rajin ibadah namun tersiksa saat sakaratul maut




Pada masa Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda bernama Al-Qomah dari kalangan Ansar. Ia terkenal sebagai ahli ibadah. Ia rajin salat, tekun puasa, dan banyak melakukan sedekah. Di mata para sahabat, ia adalah teladan ketaatan. Namun ketika Al-Qomah jatuh sakit dan mendekati sakaratul maut, terjadi sesuatu yang mengejutkan semua orang. Keluarga dan sahabat dekat menyadari bahwa Al-Qomah mengalami sakaratul maut yang buruk. Nafas beliau tersengal-sengal, lidahnya kaku, dan yang paling mengherankan ia tidak mampu mengucapkan kalimat 'La ilaha illallah' saat sakaratul maut. Sahabat yang melihat hal itu, mereka segera memberi kabar kepada Rasulullah dan meminta petunjuk. Rasulullah kemudian bertanya kepada para sahabat. 

Spk 2
"Wahai Bilal, apakah Al-Qomah masih memiliki ayah?" 

Spk 1
Lalu Bilal menjawab. 

Spk 2
"Tidak, wahai Rasulullah. Ayahnya telah meninggal dunia. Namun ia masih memiliki ibu dengan usia sudah sangat tua." 

Spk 1
Lalu Rasulullah berkata. 

Spk 2
"Pergilah engkau dan temui ibunya. Sampaikan salamku kepadanya. Jika beliau sanggup berjalan, segeralah temui aku. Tetapi jika tidak, maka aku yang akan datang menemuinya." 

Spk 1
Namun setelah para sahabat menyampaikan pesan Rasulullah kepada sang ibu Al-Qomah, sang ibu pun memilih untuk datang menemui Rasulullah. Setelah duduk di hadapan Rasulullah, lalu Rasulullah bertanya. 

Spk 2
"Wahai ibu Al-Qomah, katakanlah kepadaku yang sebenarnya tentang anakmu. Jika engkau berdusta, maka akan turun wahyu kepadaku. Bagaimana hubunganmu dengan anakmu, Al-Qomah?" 

Spk 1
Sang ibu menjawab dengan air mata. 

Spk 3
"Wahai Rasulullah, Al-Qomah adalah anak yang sangat rajin beribadah. Ia rajin salat, berpuasa, bahkan bersedekah. Namun ia lebih mengutamakan istrinya daripada aku. Ia pun sering menentangku dan telah durhaka kepadaku, dan aku pun masih menyimpan sakit hati kepadanya." 

Spk 1
Kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabat. 

Spk 2
"Sakit hati seorang ibu dapat menutup jalan seorang anak untuk mengucapkan kalimat tauhid." 

Spk 1
Upaya Rasulullah menyembuhkan keadaan, maka Rasulullah memerintahkan para sahabat dan berkata. 

Spk 2
"Wahai para sahabat, kumpulkan kayu bakar dan nyalakan api." 

Spk 1
Lalu sang ibu berkata. 

Spk 3
"Wahai Rasulullah, apakah engkau akan membakar anakku di hadapanku?" 

Spk 1
Lalu Rasulullah menjawab. 

Spk 2
"Siksa Allah jauh lebih pedih dan kekal. Jika engkau ingin Allah mengampuninya, maka maafkanlah ia." 

Spk 1
Mendengar itu, sang ibu menangis dan berkata. 

Spk 3
"Wahai Rasulullah, aku memaafkannya. Aku tidak sanggup melihat anakku dibakar. Ya Allah jadikanlah aku rida kepada anakku." 

Spk 1
Saat kata-kata itu diucapkan, tiba-tiba lidah Al-Qomah menjadi ringan. Saat itu pula ia bisa mengucapkan kalimat 'La ilaha illallah'. Kemudian ia meninggal dunia dengan tenang. Rasulullah bersabda. 

Spk 2
"Rida Allah tergantung pada rida orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." 

Spk 1
Dari kisah ini menegaskan bahwa ketaatan seorang anak kepada orang tuanya merupakan jalan untuk meraih rida Allah.


Semoga Bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Thanks you