YANG TERAKHIR DIANTAR
Agus lari.
Tanah runtuh di belakangnya.
Tangan-tangan muncul dari dalam bumi, menarik jaketnya, kakinya, kulitnya terasa seperti disobek kuku tumpul.
Motor menyala sendiri.
Agus naik.
Gas penuh.
Jalan memanjang tak wajar.
Tidak pernah sampai.
Spionnya kini penuh wajah.
Mereka membuka helm satu per satu.
Wajah Agus.
Tua. Busuk. Hancur. Menyeringai.
“Kamu dulu ninggalin kami, Gus,” kata mereka.
“Sekarang giliran kamu jadi makanan.”
Motor berhenti mendadak.
Agus jatuh ke tanah.
Ia tidak berteriak lagi.
Paru-parunya sudah penuh tanah.
Yang terakhir ia lihat adalah layar ponselnya:
ORDER SELESAI
STATUS: DRIVER AKTIF
Pagi hari.
Seorang warga menemukan motor ojol tanpa pengendara, mesin masih panas, terparkir rapi di pinggir jalan.
Di jok motor itu…
sebuah kotak makanan.
Di dalamnya:
ponsel Agus yang masih menyala.
Notifikasi masuk:
Pesanan baru — Kampung Sido Senyap
Catatan: Driver jangan kabur.
Dan sejak itu,
setiap driver yang menerima order tengah malam…
selalu merasa lapar luar biasa.
Karena di Kampung Sido Senyap,
yang diantar bukan makanan.
Tapi pengantar itu sendiri.
—TAMAT—
No comments:
Post a Comment